“Aku jadi mulai memahami tentang makna hidup,” kata rumput pada ular, “aku merasa perlu berterimakasih pada cacing tanah”. Kehidupan adalah air mengalir, mengikuti segala aturan ruang dan waktu, bisa dari air sungai atau sekumpulan embun yang diberkati. Aku sangat menyukai kesuburan, untuk itulah aku punya dendam dan kebencian yang mendalam atas kegersangan. Pernah suatu ketika dengan asap yang karenanya diriku terhalang dari udara. Dan setiap yang berlalu-lalang di sekitarku tak mampu melihatku, sangat kabur dan menyesakkan hidung. Bagi siapa saja yang menyalakan api dan menyemburkan asap, harus berhadapan dengan rintik hujan. Aku bukan melati, juga bukan marijuana yang terlalu mudah untuk engkau temukan biarpun matahari dan bulan diselimuti kabut. Ada yang saya rindukan, yaitu para domba dan sapi yang digembalakan tuannya. Sebenarnya juga memuakkan, karena kerakusannya merusak kelestarianku. Sejak manusia menjadi tuan atas gembalaannya, tak kutemui kupu-kupu hinggap menari di kepalaku. Lestariku tidak untuk mengabadi, hanya belum siap menghadapi kematian yang mendahului takdir maha kuasa.
Sebagian makhluk yang pernah kutemui meyakini bahwa untuk hidup mulia perlu sebuah ketinggian, juga menaikinya, bahkan memujanya. Beruntung, aku tak mengharuskan diriku unuk melakukan sesuatu yang tak mungkin aku lakukan. Biarpun untuk bersikap-berkata seperti itu, sejenak tertanam benih kesombongan. Seharusnya segala yang terjadi pada diriku cukup menjadi pelajaran, agar burung elang yang berakrobat di atasku tak melihat ketololanku berulang kali. Daun-daun gugur, kembang-mengembang lagi. Air, udara, tanah dan api bersatu mengurai simpul-simpul kusut, menjauhkan aku dari arak-arakan racun dari arah yang tak disangka-sangka. Celakalah bagi yang tak kenal cuaca dan musim! Dinding langit tak bisa ditembus, kecuali bagi mereka yang berhati lembut. Sedikit yang tahu, bahwa pintu langit masih terbuka, tetapi cukup harus berpikir seribu kali untuk masuk. Karena yang telah terjadi, hal-hal besar akan menggoyahkan; ketakjuban besar, keserakahan besar, kebahagiaan besar, jabatan besar. Dan tiba-tiba, jatuh berkeping-keping dengan kecepatan yang melebihi cahaya. Dan tanpa disadari, mereka tak hanya menembus langit, tapi juga menembus bumi.
O, fajar terlalu cepat menghampiri. Ia tak rela jika bulir-bulir embun harus membasuh kekusamanku terlalu lama. Keseimbangan memang perlu dibayar mahal. Laksana cakrawala, yang bernyanyi berpesta ria di kedalaman jiwa. Celotehanku adalah bau kotoran manusia. Kurang jelas, berapa jumlah kotoran yang sempat kutampung. Bentuk dan warna beragam sangat. Sebuah cara yang cukup membantuku untuk lebih serius belajar mengenali aroma. Aku datang bukan dari pagi, siang, sore atau malam. Untuk pekerjaan yang kulakukan, aku acuh segala latar belakang. Aku tidak hidup dari, oleh dan untuk. Segala kejadian hampir selalu lepas dari kendali; meleset, terlewati, terhianati. Aku pendamba kehidupan, tapi tak cukup berani untuk menyebar akar di banyak penjuru permukaan bumi. Tentu setiap makhluk harus mengerti di mana tempat yang tepat untuk berdiri.
Demi cahaya, aku bukan pengembara. Aku tak kuasa berjalan, lari, apalagi. Kaki-kakiku tertanam, dan yang kuwajibkan pada diriku hanya tumbuh, dengan tanpa tergesa-gesa. Aku juga tak mugkin terbang, karena hal demikian hanya bagi mereka yang mampu melawan angin. Aku harus bergoyang, menari, biar sendi-sendiku patah sekalipun. Gerakku mengikut, tak sempat memimpin. Itulah hari-hariku, dan aku tetap percaya tak lebih buruk dari yang pernah aku saksikan di luar sana. Kebaikan dan keburukan memang sering dijadikan dasar menyikapi dan menilai sesuatu. Begitu pula kebenaran. Sesungguhnya kebenaran bukan karena dibuat-buat, melainkan sudah ada sejak lama. Cuma seringkali ia berada pada posisi yang unik; tersembunyi, disembunyikan, terbuang, terkoyak. Dan akhir-akhir ini, ia malah telanjang, dijadikan arak-arakan, tontonan, sekaligus hiburan, serta sudah mulai laku untuk diperjual-belikan.
Tak ada yang patut dipuji, dari seunggun api kebanggaan yang kumiliki. Bukan kebahagiaan benar yang aku cari, melainkan debu kesedihan yang lama kutunggu-kunanti. Entah telah melewati purnama yang ke berapa aku ayunkan helai daun untuk langit angkasa yang terang, sedang bintang-gemintang semakin temaram masuk ke celah-celah kecil pori-poriku. Celakalah aku! Indra perasaku terlampau terbiasa untuk kelu saat mengecapi sembarang rasa. Aku masih belum bisa dan rasanya sulit untuk bisa menerima sesuatu yang tawar. Manis, masam, asin, pahit, pedas, masih teramat berharga untuk membantu aku menyerap sari-sari kehidupan ke dalam diriku. Tak ada sisa dari yang tersajikan, semua kulahap beserta ketebalan kulitnya. Bahagia. Buas, aku semakin buas! Beginilah aku yang tak mengenal neraka. Teringat samar, aku pernah mendengar, bahwa Tuhan mencipta neraka dengan kasih sayangNya. Dan dalam tempat perhentian ini, aku masih sulit memberi kasih sayang. Lalu, segala yang hijau yang berdiri di atas permukaan tanah ini, berubah layu, coklat, meranggas.
Aku rumput kecil yang tak punya kehendak, Tidak heran kalau aku tak pernah menjadi apa-apa. Tapi, yang alami dan murni selalu menjadi jiwa kehidupan. Aku harus diinjak biar berguna. Aku harus dipotong agar rapi. Dengan demikianlah aku menemukan diriku. Bukan seperti pohon-pohon besar. Jangan kau injak pohon-pohon besar, jangan kau potong! Ada yang harus dikerjakan bagi mereka, dan ada yang harus dikerjakan bagiku. Keselamatanku adalah pada saat menyelamatkan yang lain, dan keselamatan yang lain adalah saat menyelamatkanku. Beberapa burung yang kulihat, nampak memiliki perkumpulannya sendiri. Demikian halnya semut-semut yang bertebaran di muka bumi. Mereka saling berdiskusi, entah membincangkan apa, mungkin aku terlalu dungu. Atau aku yang memang licik, menganggap itu tak terlalu penting, dan tak terlalu dibutuhkan. Dan aku suka mengabadikan hal-hal semacam ini. Mengabadikan kisah yang terpotret tak sempurna, sedang aku menganggapnya sebagai teladan.
Banyak pihak yang tidak aku sukai. Tetapi bukan untuk itu aku membenci sesuatu. Mungkin perlu segenang air keruh untuk bercermin. Tak bermaksud melihat wajah asliku, karena tentu aku sudah tahu wajah asliku, dan kali ini aku hanya memerlukan sesuatu untuk menghibur diri, bahwa mukaku yang keruh bukan berasal dari diriku, tapi air yang di depanku. Ah, sudahlah. Aku tetap beriman pada sebuah kebijaksanaan sederhana masa lalu, bahwa aku tetaplah aku. Aku mempunyai fitrahku sendiri. Aku juga mempunyai cara berkorban sendiri. Tak perlu lagi aku berceloteh, biarpun aku memiliki kebebasan untuk itu.
Demikianlah rumput berbicara.
Sebagian makhluk yang pernah kutemui meyakini bahwa untuk hidup mulia perlu sebuah ketinggian, juga menaikinya, bahkan memujanya. Beruntung, aku tak mengharuskan diriku unuk melakukan sesuatu yang tak mungkin aku lakukan. Biarpun untuk bersikap-berkata seperti itu, sejenak tertanam benih kesombongan. Seharusnya segala yang terjadi pada diriku cukup menjadi pelajaran, agar burung elang yang berakrobat di atasku tak melihat ketololanku berulang kali. Daun-daun gugur, kembang-mengembang lagi. Air, udara, tanah dan api bersatu mengurai simpul-simpul kusut, menjauhkan aku dari arak-arakan racun dari arah yang tak disangka-sangka. Celakalah bagi yang tak kenal cuaca dan musim! Dinding langit tak bisa ditembus, kecuali bagi mereka yang berhati lembut. Sedikit yang tahu, bahwa pintu langit masih terbuka, tetapi cukup harus berpikir seribu kali untuk masuk. Karena yang telah terjadi, hal-hal besar akan menggoyahkan; ketakjuban besar, keserakahan besar, kebahagiaan besar, jabatan besar. Dan tiba-tiba, jatuh berkeping-keping dengan kecepatan yang melebihi cahaya. Dan tanpa disadari, mereka tak hanya menembus langit, tapi juga menembus bumi.
O, fajar terlalu cepat menghampiri. Ia tak rela jika bulir-bulir embun harus membasuh kekusamanku terlalu lama. Keseimbangan memang perlu dibayar mahal. Laksana cakrawala, yang bernyanyi berpesta ria di kedalaman jiwa. Celotehanku adalah bau kotoran manusia. Kurang jelas, berapa jumlah kotoran yang sempat kutampung. Bentuk dan warna beragam sangat. Sebuah cara yang cukup membantuku untuk lebih serius belajar mengenali aroma. Aku datang bukan dari pagi, siang, sore atau malam. Untuk pekerjaan yang kulakukan, aku acuh segala latar belakang. Aku tidak hidup dari, oleh dan untuk. Segala kejadian hampir selalu lepas dari kendali; meleset, terlewati, terhianati. Aku pendamba kehidupan, tapi tak cukup berani untuk menyebar akar di banyak penjuru permukaan bumi. Tentu setiap makhluk harus mengerti di mana tempat yang tepat untuk berdiri.
Demi cahaya, aku bukan pengembara. Aku tak kuasa berjalan, lari, apalagi. Kaki-kakiku tertanam, dan yang kuwajibkan pada diriku hanya tumbuh, dengan tanpa tergesa-gesa. Aku juga tak mugkin terbang, karena hal demikian hanya bagi mereka yang mampu melawan angin. Aku harus bergoyang, menari, biar sendi-sendiku patah sekalipun. Gerakku mengikut, tak sempat memimpin. Itulah hari-hariku, dan aku tetap percaya tak lebih buruk dari yang pernah aku saksikan di luar sana. Kebaikan dan keburukan memang sering dijadikan dasar menyikapi dan menilai sesuatu. Begitu pula kebenaran. Sesungguhnya kebenaran bukan karena dibuat-buat, melainkan sudah ada sejak lama. Cuma seringkali ia berada pada posisi yang unik; tersembunyi, disembunyikan, terbuang, terkoyak. Dan akhir-akhir ini, ia malah telanjang, dijadikan arak-arakan, tontonan, sekaligus hiburan, serta sudah mulai laku untuk diperjual-belikan.
Tak ada yang patut dipuji, dari seunggun api kebanggaan yang kumiliki. Bukan kebahagiaan benar yang aku cari, melainkan debu kesedihan yang lama kutunggu-kunanti. Entah telah melewati purnama yang ke berapa aku ayunkan helai daun untuk langit angkasa yang terang, sedang bintang-gemintang semakin temaram masuk ke celah-celah kecil pori-poriku. Celakalah aku! Indra perasaku terlampau terbiasa untuk kelu saat mengecapi sembarang rasa. Aku masih belum bisa dan rasanya sulit untuk bisa menerima sesuatu yang tawar. Manis, masam, asin, pahit, pedas, masih teramat berharga untuk membantu aku menyerap sari-sari kehidupan ke dalam diriku. Tak ada sisa dari yang tersajikan, semua kulahap beserta ketebalan kulitnya. Bahagia. Buas, aku semakin buas! Beginilah aku yang tak mengenal neraka. Teringat samar, aku pernah mendengar, bahwa Tuhan mencipta neraka dengan kasih sayangNya. Dan dalam tempat perhentian ini, aku masih sulit memberi kasih sayang. Lalu, segala yang hijau yang berdiri di atas permukaan tanah ini, berubah layu, coklat, meranggas.
Aku rumput kecil yang tak punya kehendak, Tidak heran kalau aku tak pernah menjadi apa-apa. Tapi, yang alami dan murni selalu menjadi jiwa kehidupan. Aku harus diinjak biar berguna. Aku harus dipotong agar rapi. Dengan demikianlah aku menemukan diriku. Bukan seperti pohon-pohon besar. Jangan kau injak pohon-pohon besar, jangan kau potong! Ada yang harus dikerjakan bagi mereka, dan ada yang harus dikerjakan bagiku. Keselamatanku adalah pada saat menyelamatkan yang lain, dan keselamatan yang lain adalah saat menyelamatkanku. Beberapa burung yang kulihat, nampak memiliki perkumpulannya sendiri. Demikian halnya semut-semut yang bertebaran di muka bumi. Mereka saling berdiskusi, entah membincangkan apa, mungkin aku terlalu dungu. Atau aku yang memang licik, menganggap itu tak terlalu penting, dan tak terlalu dibutuhkan. Dan aku suka mengabadikan hal-hal semacam ini. Mengabadikan kisah yang terpotret tak sempurna, sedang aku menganggapnya sebagai teladan.
Banyak pihak yang tidak aku sukai. Tetapi bukan untuk itu aku membenci sesuatu. Mungkin perlu segenang air keruh untuk bercermin. Tak bermaksud melihat wajah asliku, karena tentu aku sudah tahu wajah asliku, dan kali ini aku hanya memerlukan sesuatu untuk menghibur diri, bahwa mukaku yang keruh bukan berasal dari diriku, tapi air yang di depanku. Ah, sudahlah. Aku tetap beriman pada sebuah kebijaksanaan sederhana masa lalu, bahwa aku tetaplah aku. Aku mempunyai fitrahku sendiri. Aku juga mempunyai cara berkorban sendiri. Tak perlu lagi aku berceloteh, biarpun aku memiliki kebebasan untuk itu.
Demikianlah rumput berbicara.

0 comments:
Post a Comment