Begitu panggung dibuka, (A), seorang buta, duduk bersandar tiang, menggesek biola tuanya. Di depannya, ada sejenis gelas, berisi kopi, masih berasap. (A) berhenti menggesek biolanya, memandang ke kiri, mendengarkan sesuatu. Ternyata (B) sedang berisik, merobek-robek kertas, sedang marah. (B) melihat (A) sedang mencari-cari suara yang didengarkannya. (B) berhenti. Tertegun. (B) berdiri, jalan perlahan menghampiri (A), dipandanginya (A); mata, biola, dan secangkir kopinya. Kaca mata yang semula dipakai (B), dilepas dan dikenakan ke mata (A). (B) berdiri kaku menatap (A).
(C) baru datang, membawa buntalan sarung yang diikatkan di tongkat. Ia memanggulnya dengan bantuan tongkat tersebut. Sulit berjalan wajar, tubuhnya tertarik bumi. Berdiri di tengah persimpangan, melihat sekitar kiri-kanan. Dihampirinya kasur, dan tubuhnya merebah. Bangun lagi, mengeluarkan jam dinding dari buntalan sarungnya, lalu dipasangnya di tembok dekat kasur. Maka tidurlah ia dengan pulas. (D) datang, ia juga membawa buntalan sarung diikatkan di tongkat, dan mengikuti jejak (C). Ia tidur di samping (C). Lalu (A) berdiri, sambil meraba-raba tubuh (B) yang di berada di depannya, ia memasangkan kembali kaca mata ke (B). (A) mengambil rangka pigura, dan menggantungkannya di tiang persimpangan. Lalu bersimpuh di tengah persimpangan jalan, sambil meneriakkan sajak yang sudah dihapalnya:
PERSIMPANGAN
Sudah cukup kumerasai
Sekumpulan cerita yang kau bilang dera
Bukan rindu rupa aku mengiba
Rinduku rebah kepada makna
Yang menyatu tanah, udara, air, dan api
Hingga lupa,
Melihat tubuh terbaring berkeringatkan asa
Berlarut-larut
Puisi pagiku sembilu
Mencium batu nisan di teras rumah
Denyut perih tak terbilang zaman
menemukan diriku di tengah padang.
Aku di sini
suka mereka yang mengejar gelombang,
menyeret buih timbul-tenggelam
kini, giliran gelisah menjemput
dan aku tersangkut di negeri seberang
Susah berdamai dengan rasa
dan wajah tambah buram pecahkan kaca
Semakin buta
membingkai persimpangan jalan kita
untuk pertemuan yang meniada.
(E) datang ke panggung dengan merangkak, terbalut perban putih, dan membawa kain kanvas putih. Mencoba tetap bertahan, dari sakit yang perih. Digapainya bingkai kosong. Dan kain putih tersebut dipasang di kerangka bingkai. Lalu, (E) memutari (B) dengan merangkak, selama tiga kali. Kemudian (B) perlahan-lahan jatuh, dengan cara berputar-putar, seperti orang mau pingsan. Selanjutnya, (E) meninggalkan panggung. Si (C) terbangun, dibukanya sebuah bingkisan. Dicari-carinya suatu barang, dan ia tak mendapatkannya. Tiba-tiba ia merasa janggal. Lalu ia menoleh ke belakang, dan didapatinya bungkusan yang lain, juga seseorang yang tidur disampingnya. Namun ia terlanjur mendapati sepucuk surat dari buntalan kawannya, yang kemudian dengan diam-diam dilemparnya ke sampah. Lalu, ia melihat-lihat lagi buntalannya sendiri. Dilihatinya foto-foto keluarganya, lalu dirobek dan dibuang di tempat sampah. Dan tidur lagi. (F) dan (G) masuk panggung, keduanya memakai topeng, keduanya berjalan saling membelakangi. Jatuh. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan. Mereka membawa cermin berdebu. Dan dipasangnya di salah satu sudut ruangan. Dilakukannya gerakan tari bebas di depan cermin. Si (A) menghampiri sumber suara, (F) dan (G) menghentikan gerakan. Lalu dituntunnya (A) untuk ikut bercermin. Dan ternyata? (F) dan (G) baru sadar bahwa (A) buta. Setelah bercermin, kedua orang tersebut (F dan G) merasa mendapat ilham. (A) masih tetap melakukan peragaan sendiri. Dan (F) dan (G) melakukan gerakan-gerakan semacam kipas-kipas ke (B), bermaksud membangunkan. Ada sekitar 9 kipasan.
(F) dan (G) kemudian mendekati (C) dan (D), berusaha mengipasi untuk membangunkan. Baru dua kali kipasan, namun tiba-tiba dihentikannya pada awal kipasan ketiga. Mereka berdua berpikir sejenak, sesekali memijit-mijit keningnya. Lalu digapainya jam dinding dekat kasur, dan dipasang lagi pada tempat semula dalam keadaan terbalik, angka nomor 6 di atas, dan angka 12 di bawah. Kemudian, (F) dan (G), dengan cara berlompat-lompat meninggalkan panggung. Pada saat yang sama, Si (B) bangun, dengan ekspresi kedinginan, ia menggigil. Dan, saat sudah berdiri, ia melihat (F) dan (G) sedang mengkipas-kipasi (C) dan (D). Melihat itu, ia semakin merasa dingin. Lalu, dilihatnya kanvas kosong menggantung di tiang kerangka persimpangan jalan. Lalu dibawanya kanvas itu ke meja, dan ia gambari dengan cat minyak. Ia melakukan gerakan-gerakan melukis.
Si (D) terbangun, lalu dicari-carinya sepucuk surat di dalam buntalannya, dan ia tak menemukan. Pada saat yang sama, (B) yang masih melakukan gerakan-gerakan melukis di atas meja, tak sengaja mendapati sebuah surat di keranjang sampah. (B) penasaran, lalu ia berdiri di atas meja, menghadap penonton, mencoba membacanya dengan gerak bibir tanpa suara. (B) baru sebentar berdiri. Dan seketika itu, (D) mendekati (B), lalu dipandangnya mata (B). Serta merta (B) turun dari meja, dan memberikan kertas itu pada (D) dan meminta membacakannya di atas meja. Dan (D) menyanggupi. Dibacalah apa yang di kertas itu dengan lantang. Saat (D) membaca, Si (A) dan (B) mendekatinya, sambil memegang kaki dan badannya. Isi kertas itu berupa puisi:
CATATAN PENGELANA
Kan ku telusuri suatu negeri, di panjang dan lebarnya
Sampai ku raih harapku, atau dalam keterasingan aku mati
Jika diriku terbelok, kuharap engkau mau meluruskan
Jika diriku terselamatkan, niscaya sebentar lagi aku kembali
Rindu memuncak untuk pergi ke Mesir
Paling tidak kulintasi luasnya padang pasir
Demi Tuhan, tak tahu apa keberuntungan bisa kudapat
Atau di liang kuburan diriku tersumbat
Muncullah aku, lalu tak ku jumpai seorang kawan
Dalam prahara atau gembira aku berteman
Kubuang keraknya karena banyak kejelekan
Kubuang pucuknya karena sedikit kebaikan
Berkelanalah aku dengan segenap jiwa
Bukan perpisahan benar menjadi api
walau hidup harus menyendiri
Jika kutemani kumpulan orang-orang dalam kelana
Jadilah aku seperti saudara tercinta
Dengan aib sendiri,aku kelana punya mawas dan indera
Dengan aib kawan,sepasang mataku aku butakan
Tak ku ambil peduli, di setiap kelam orang-orang yang kulalui
Tapi kubilang: “Mari tetap pada jalan ini!”
Jika aku ambil peduli, mereka kan menyingkiri
Jadilah aku di buana ini tanpa kawan menemani
Ku lihat genangan air merusak kejernihan
Jika mengalir maka indahlah, jika tersumbat maka keruhlah
LihatSinga yang tak meninggalkan sarang, secuil mangsa pun tiada
Dan kalau panah tak tinggalkan busur, bagaimana sasaran tertawan
Janganlah bilang, mentari hanya berhenti di poros
Bosanlah bosan manusia memandang
Andai purnama tak terbenam ke peraduan
Tak terlihat di mata sekuntum perhatian
Tak ada tempat istirahat bagi orang berakal-berbudi
Maka berkelanalah aku dan meninggalkan negeri
Berkelanalah aku…
Berkelanalah aku…
Berkelanalah aku hingga sampai juga diSini
Roda kaki biar berpacu
Berpacu hingga melesat seperti peluru
Dan baru akan pulang-kembali
Saat aku menjadi berarti
Si (D) lalu turun dari meja. Dilipatlah kertas itu, dan diberikan ke (B). (D) mengambil buntalannya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan panggung dengan berjalan mengangkat tumit. Sedang (A) yang semula termangu, lalu mengambil lukisan di samping meja, untuk kemudian dipasangnya di tiang persimpangan jalan. Lalu, (A) meraba-raba lukisan, menampakkan bahwa ia yang bermata buta sedang membaca lukisan. Lantas ia duduk menyandar tiang persimpangan jalan, seperti awal mula ia masuk panggung, sambil beberap kali menggapai-gapai kopinya, untuk diseruputnya dengan tenang. Digeseknya kembali biola tuanya itu.
Pada saat yang sama, setelah (D) habis membaca puisi, (B) membersihkan kotoran-kotoran sampah yang berserakan. Dijumputinya kulit kacang untuk kemudian dimasukkan ke keranjang sampah. Dikumpulkanlah buku-buku yang bertebaran di sudut-sudut ruang. Dikumpulkannya lembaran-lembaran kertas yang berceceran, dan disusun kembali, lalu ditaruhnya dengan rapi di atas meja. Berhenti sejenak, seperti sedang berpikir. Ia mendekati keranjang sampah, lalu dimasukkannya lengan tangan bagian kanan ke dalam keranjang sampah, ia sedang mengambil sesuatu. Ya, ternyata dua buku tua dan sebuah koran diangkatnya. Ia membersihkannya dengan tangan dan mengeluarkan semacam udara dari dalam mulut untuk diarahkan pada buku dan koran tersebut. (B) duduk di depan meja, dan sibuk menulis-membaca. Ruangan terlihat rapi.
Biola (A) berhenti berbunyi. Dan (C) bangun. Ia berdiri, lalu berjalan mengelilingi semua sudut ruangan. Semua barang, ditatapnya dengan penuh keheranan; orang yang tidur di sampingnya sudah tak ada, ruangan jadi rapi, ada lukisan tergantung, ada cermin terpasang. Dan ia melihat (A) sedang sibuk dengan biolanya, (B) sedang membaca-menulis. Dan ia sendiri jadi bingung, tentang apa yang harus ia kerjakan. Berhenti sejenak, saat ia berada di antara meja dan tiang persimpangan. Ditundukkan kepala, sambil menarik nafas dengan perlahan, ia sedang merenungkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia angkat kepala dan membuka mata lebar-lebar. Ia tidak berpindah tempat, namun ia memutar-mutar badan, dan dilemparkannya tatapan kedua mata dengan tajam. Sambil menyapukan tatapan mata pada setiap sudut ruangan, ia berharap mendapat jawaban. Tak ada yang janggal, semua baik-baik saja. Ia pun tak mendapat apa-apa. Tapi entah, sorot mata enggan berkedip. Diawasi lagi setiap sisi dari ruangan. Kali ini lebih tajam. Seperti ada yang terlewati. Benar. Kini, sorot mata jatuh pada sebuah benda, cermin di ruangan itu ternyata penuh debu. Dihampirinya cermin tersebut, dan diusap dengan mukanya. Setelah selesai mengusap, ia sendiri bercermin, dan ternyata diketahuinya bahwa ada kotoran di muka. Ia membersihkan dengan telapak tangan kanannya. Baru pada usapan pertama, ia lantas menghentikannya. Lalu telapak tangan ditatapnya dengan mata, dan ia lihat juga lewat cermin, ternyata telapak tangannya menjadi kotor. Ia pun menuju tempat di mana ia menaruh buntalan miliknya. Ia mengambil sepotong kain, lalu ia kembali ke depan cermin, dan membersihkan muka dan tangannya. Setelah itu, dilihatnya kain yang berdebu, kotor. Kain tersebut dibuangnya di sampah. (C) berdiri di dekat keranjang sampah, dan tiba-tiba ia mendapati sebuah jam dinding dipasang terbalik. Lalu ia membenarkan kembali. (C) bergegas meninggalkan ruangan panggung, sambil bejalan santai, merunduk ke depan, dengan tongkat di atas bahunya yang membawa sebuh buntalan.
Di atas panggung tinggal dua orang, (A) dan (B). (B) menghentikan pekerjaan membaca dan menulisnya, ia menghampiri (A) di persimpangan jalan. Mereka berdua berdilog. Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih. Suara Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar alunan musik biola, gitar, harmonika, mengiring-iringi bersahut-sahutan. Dialog terasa akrab. Warna cahaya berubah pelan pelan. Musik sendu mengalun. (B) mengawali pertanyaan. (B): Sebetulnya siapa dirimu? (A): Sebegitu pentingkah siapa diriku, hingga kau harus mengenalnya? (B): Bukan begitu, aku ingin bertanya, di manakah kita saat ini? (A): Ooo, ya, di mana, di mana, di mana kita saat ini? (B): Mengapa kita di sini? (A): Ya, mengapa kita di sini? (B): Untuk apa aku di sini, untuk apa kita di sini? (A): Oooo, ya, untuk apa, untuk apa kita di sini? (B): Di mana kita? Untuk apa kita di sini? (A): Ya, di mana kita? Untuk apa kita di sini? (B): Ya sudah, kalau memang kita tidak tahu di mana kita saat ini, mengapa sampai di sini, dan untuk apa di sini, mari kita pergi dari sini, biarpun tak tahu harus ke mana.
Demikianlah naskah teater garapan Duntara Badai Saka yang berjudul Persimpangan Kairo. Namun sayang, banyak adegan-adegan di luar teks. Biarpun tak keluar dari tema besar yang diangkat, namun cukup menjadi masalah, paling tidak bagi penonton, yang untuk memahaminya perlu konsentrasi lebih serius lagi. Juga karena lampu yang terbakar, cukup mengganggu jalannya pementasan. Tapi tak dipungkiri, bahwa teater ini adalah cara mereka menyampaikan pesan, seperti kita menyampaikan pesan kepada orang lain, dengan caranya yang lain pula.
Selengkapnya...