Tuesday, March 24, 2009

“Aku jadi mulai memahami tentang makna hidup,” kata rumput pada ular, “aku merasa perlu berterimakasih pada cacing tanah”. Kehidupan adalah air mengalir, mengikuti segala aturan ruang dan waktu, bisa dari air sungai atau sekumpulan embun yang diberkati. Aku sangat menyukai kesuburan, untuk itulah aku punya dendam dan kebencian yang mendalam atas kegersangan. Pernah suatu ketika dengan asap yang karenanya diriku terhalang dari udara. Dan setiap yang berlalu-lalang di sekitarku tak mampu melihatku, sangat kabur dan menyesakkan hidung. Bagi siapa saja yang menyalakan api dan menyemburkan asap, harus berhadapan dengan rintik hujan. Aku bukan melati, juga bukan marijuana yang terlalu mudah untuk engkau temukan biarpun matahari dan bulan diselimuti kabut. Ada yang saya rindukan, yaitu para domba dan sapi yang digembalakan tuannya. Sebenarnya juga memuakkan, karena kerakusannya merusak kelestarianku. Sejak manusia menjadi tuan atas gembalaannya, tak kutemui kupu-kupu hinggap menari di kepalaku. Lestariku tidak untuk mengabadi, hanya belum siap menghadapi kematian yang mendahului takdir maha kuasa.

Sebagian makhluk yang pernah kutemui meyakini bahwa untuk hidup mulia perlu sebuah ketinggian, juga menaikinya, bahkan memujanya. Beruntung, aku tak mengharuskan diriku unuk melakukan sesuatu yang tak mungkin aku lakukan. Biarpun untuk bersikap-berkata seperti itu, sejenak tertanam benih kesombongan. Seharusnya segala yang terjadi pada diriku cukup menjadi pelajaran, agar burung elang yang berakrobat di atasku tak melihat ketololanku berulang kali. Daun-daun gugur, kembang-mengembang lagi. Air, udara, tanah dan api bersatu mengurai simpul-simpul kusut, menjauhkan aku dari arak-arakan racun dari arah yang tak disangka-sangka. Celakalah bagi yang tak kenal cuaca dan musim! Dinding langit tak bisa ditembus, kecuali bagi mereka yang berhati lembut. Sedikit yang tahu, bahwa pintu langit masih terbuka, tetapi cukup harus berpikir seribu kali untuk masuk. Karena yang telah terjadi, hal-hal besar akan menggoyahkan; ketakjuban besar, keserakahan besar, kebahagiaan besar, jabatan besar. Dan tiba-tiba, jatuh berkeping-keping dengan kecepatan yang melebihi cahaya. Dan tanpa disadari, mereka tak hanya menembus langit, tapi juga menembus bumi.

O, fajar terlalu cepat menghampiri. Ia tak rela jika bulir-bulir embun harus membasuh kekusamanku terlalu lama. Keseimbangan memang perlu dibayar mahal. Laksana cakrawala, yang bernyanyi berpesta ria di kedalaman jiwa. Celotehanku adalah bau kotoran manusia. Kurang jelas, berapa jumlah kotoran yang sempat kutampung. Bentuk dan warna beragam sangat. Sebuah cara yang cukup membantuku untuk lebih serius belajar mengenali aroma. Aku datang bukan dari pagi, siang, sore atau malam. Untuk pekerjaan yang kulakukan, aku acuh segala latar belakang. Aku tidak hidup dari, oleh dan untuk. Segala kejadian hampir selalu lepas dari kendali; meleset, terlewati, terhianati. Aku pendamba kehidupan, tapi tak cukup berani untuk menyebar akar di banyak penjuru permukaan bumi. Tentu setiap makhluk harus mengerti di mana tempat yang tepat untuk berdiri.

Demi cahaya, aku bukan pengembara. Aku tak kuasa berjalan, lari, apalagi. Kaki-kakiku tertanam, dan yang kuwajibkan pada diriku hanya tumbuh, dengan tanpa tergesa-gesa. Aku juga tak mugkin terbang, karena hal demikian hanya bagi mereka yang mampu melawan angin. Aku harus bergoyang, menari, biar sendi-sendiku patah sekalipun. Gerakku mengikut, tak sempat memimpin. Itulah hari-hariku, dan aku tetap percaya tak lebih buruk dari yang pernah aku saksikan di luar sana. Kebaikan dan keburukan memang sering dijadikan dasar menyikapi dan menilai sesuatu. Begitu pula kebenaran. Sesungguhnya kebenaran bukan karena dibuat-buat, melainkan sudah ada sejak lama. Cuma seringkali ia berada pada posisi yang unik; tersembunyi, disembunyikan, terbuang, terkoyak. Dan akhir-akhir ini, ia malah telanjang, dijadikan arak-arakan, tontonan, sekaligus hiburan, serta sudah mulai laku untuk diperjual-belikan.

Tak ada yang patut dipuji, dari seunggun api kebanggaan yang kumiliki. Bukan kebahagiaan benar yang aku cari, melainkan debu kesedihan yang lama kutunggu-kunanti. Entah telah melewati purnama yang ke berapa aku ayunkan helai daun untuk langit angkasa yang terang, sedang bintang-gemintang semakin temaram masuk ke celah-celah kecil pori-poriku. Celakalah aku! Indra perasaku terlampau terbiasa untuk kelu saat mengecapi sembarang rasa. Aku masih belum bisa dan rasanya sulit untuk bisa menerima sesuatu yang tawar. Manis, masam, asin, pahit, pedas, masih teramat berharga untuk membantu aku menyerap sari-sari kehidupan ke dalam diriku. Tak ada sisa dari yang tersajikan, semua kulahap beserta ketebalan kulitnya. Bahagia. Buas, aku semakin buas! Beginilah aku yang tak mengenal neraka. Teringat samar, aku pernah mendengar, bahwa Tuhan mencipta neraka dengan kasih sayangNya. Dan dalam tempat perhentian ini, aku masih sulit memberi kasih sayang. Lalu, segala yang hijau yang berdiri di atas permukaan tanah ini, berubah layu, coklat, meranggas.

Aku rumput kecil yang tak punya kehendak, Tidak heran kalau aku tak pernah menjadi apa-apa. Tapi, yang alami dan murni selalu menjadi jiwa kehidupan. Aku harus diinjak biar berguna. Aku harus dipotong agar rapi. Dengan demikianlah aku menemukan diriku. Bukan seperti pohon-pohon besar. Jangan kau injak pohon-pohon besar, jangan kau potong! Ada yang harus dikerjakan bagi mereka, dan ada yang harus dikerjakan bagiku. Keselamatanku adalah pada saat menyelamatkan yang lain, dan keselamatan yang lain adalah saat menyelamatkanku. Beberapa burung yang kulihat, nampak memiliki perkumpulannya sendiri. Demikian halnya semut-semut yang bertebaran di muka bumi. Mereka saling berdiskusi, entah membincangkan apa, mungkin aku terlalu dungu. Atau aku yang memang licik, menganggap itu tak terlalu penting, dan tak terlalu dibutuhkan. Dan aku suka mengabadikan hal-hal semacam ini. Mengabadikan kisah yang terpotret tak sempurna, sedang aku menganggapnya sebagai teladan.

Banyak pihak yang tidak aku sukai. Tetapi bukan untuk itu aku membenci sesuatu. Mungkin perlu segenang air keruh untuk bercermin. Tak bermaksud melihat wajah asliku, karena tentu aku sudah tahu wajah asliku, dan kali ini aku hanya memerlukan sesuatu untuk menghibur diri, bahwa mukaku yang keruh bukan berasal dari diriku, tapi air yang di depanku. Ah, sudahlah. Aku tetap beriman pada sebuah kebijaksanaan sederhana masa lalu, bahwa aku tetaplah aku. Aku mempunyai fitrahku sendiri. Aku juga mempunyai cara berkorban sendiri. Tak perlu lagi aku berceloteh, biarpun aku memiliki kebebasan untuk itu.

Demikianlah rumput berbicara.



Selengkapnya...

Saturday, March 21, 2009

I
Tanpa jeda
Tanpa jarak
Aku berdiri di ruang tiada iklim tiada musim
Pertarungan belum usai
masih bisa menghitung yang mati
Seribu nyawa terkubur di sini
Pertarungan tetap belum usai
Sebelum semua membangkai
Pertarungan kan bermula lagi


Aku pemuda perlu memberi tahu
Di negeriku
Hukum alam berlaku diam
Hukum manusia tak berdasar nilai
Hukum Tuhan diperjualbelikan

Aku yang tertipu perlu memberi saksi
Sampai sudah masa
Kemanusiaan terhenti pada kursi jatuh
Aku berpikir bukan dengan akalku
Aku bergerak bukan dengan tubuhku
ini waktu seperti serdadu,
yang nampak di aku sebagai musuh,
yang nampak di kawan sebagai lawan,
sedikit ruang untuk berteman.

Aku yang tak punya kuasa ini
Tak bisa angkat mulut
Mata, hidung, telinga di simpan rapat di kotak-kotak,
Aku asing di badan sendiri.
Raga di sini, jiwa di seberang

II
Tak tercatat berapa
Bisik-bujuk lama sudah dipupuk
Seperti tak sudah-sudah
mesra partai politik mengelus
di pintu-pintu ia mengetuk
Menggebu dan berpura
Menabur rembulan dan matahari
Menyembunyikan buram kelam malam
Menjaring silau bias cahaya
Lalu hanyut hilang
dihujani langit dilahap bumi

III
Saluran darahku macet,
tersumbat oleh pamflet-pamflet politik.
dan Papan-papan reklame menghalangi penglihatan orang-orang akan keadaan yang sebenarnya.
Hingga lembutnya asap kepentingan-kepentingan sepihak tak mampu tersaring oleh hidung masyarakat yang kian bengkak.

Orang-orang dididik bukan untuk berpendidikan,
melainkan untuk menduduki kedudukan-kedudukan,
di kampung, di kota, di pemerintahan,
dan bahkan di lembaga-lembaga kesenian, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Jalur-jalur bebas hambatan di sesaki oleh penumpang-penumpang gelap,
dan kita tinggal menunggu waktu, penggulingan akan terjadi terorganisir.

Orang-orang dibimbing bukan untuk mencari jati dirinya sendiri,
melainkan sebagai cara melestarikan pemaksaan dan penindasan,
atas nama kebenaran dan kebaikan.

Orang-orang diajar kebebasan politik,
bukan untuk melatih keluasan dan keleluasaan jiwa,
melainkan menyuburkan kekangan dan kecurigaan-kecurigaan yang sempit.

Orang-orang diajak untuk bertanggungjawab,
Tanpa diberikan hak-haknya.
Orang-orang diajak untuk membangun badan,
Bukan diajak untuk membangun jiwa.
Orang-orang diajak untuk rapi dan bersih,
Bukan diajak untuk adil dan jujur.

IV
Hahaha....
Kita belum pernah benar-benar belajar untuk tak tergantung pada apapun dan siapapun.
Kita masih suka tergantung dan sengaja menggantungkan diri,
secara sosial, ekonomi, dan bahkan politik.
Setelah itu, kita beramai-ramai kesana-kemari menjadikannya sebagai berhala-berhala baru.
Kita sudah lupa, bahwa satu-satunya yang berhak kita jadikan gantungan,
adalah Tuhan yang maha pengasih, Tuhan maha penyayang, dan Tuhan yang maha bijaksana.

Kita menuhankan partai politik,
menuhankan golongan,
menuhankan aliran,
menuhankan apa saja yang tak pantas dipertuhankan.
Dan perlahan-lahan, kita mulai belajar menyekutukan Tuhan.

V
Anjing-anjing menjelma manusia
Tikus-tikus menjelma manusia
Bunglon-bunglon menjelma manusia
Toilet-toilet menjelma pikiran manusia
Sampah-sampah menjelma hati manusia
Batu-batu menjelma kepala manusia
Tembok-tembok menjelma muka manusia
Peluru-peluru menjelma mulut manusia
Pedang-pedang menjelma tangan manusia
Besi-besi menjelma kaki manusia
Manusia-manusia menjelma Tuhan

VI
Orang-orang ingin menang
Orang-orang ingin menang
Seperti serigala-serigala hutan
Seperti anjing atas kucing
Untuk kemenangan rela menyakiti
Untuk kemenangan rela menodai
Untuk kemenangan rela melukai
Untuk kemenangan rela membohongi
Untuk kemenangan rela membunuh
Untuk kemenangan rela memperkosa

Segala cara akan ditempuh
untuk kemenangan dan mengalahkan yang lainnya
Segala alasan akan ditaruh
untuk kemenangan dan mencari musuh

Jiwaku semakin lelah
terhadap kemenangan-kemenangan itu, aku bertanya
Kenapa orang-orang ingin menang?
Apakah itu tujuan kehidupan?
Kenapa orang-orang ingin menang?
Apakah itu arti kehidupan?
Aku bertanya.

Biarlah aku yang kalah
Biarlah aku yang kalah
Asal tak menyakiti, menodai, melukai, membohongi, membunuh, memperkosa
Biarlah aku tak menang
Asal tak menginjak pikiran dan nuraninya

Aku tidak ingin menang
Aku hanya ingin benar


VII
manusia lahir bukan tanpa tujuan,
dan aku mendapatimu tersenyum berbunga-bunga
Melihat orang tanpa sandang tanpa pangan
Dan kamu berjabat tangan padanya
Memberi sepotong baju bertuliskan namamu juga partaimu

VIII
Sebilah pisau mencoba meraba-raba pada keganjilan.
Darah yang tak tidur turut bergumam meringkus tanda.
Ohh... ternyata sirkus kata-kata telah menjadi dogma.
Pembodohan terencana menjadi sindrom merajalela.

Guna apa menari-nari dalam khalwat panjang.
Kalau klimaks cinta tak pernah terasa.
Mengapa juga menimba ilmu hingga muntah.
Kalau diri sendiri tak kunjung berada.

Pikiran orang lain sarat paradoks dan kontradiksi.
Bergugus-gugus aksara menjerit lara tanpa makna.
Gemuruh tawa melepas syahdu.
Dan kita masih menjadi orang lain.

IX
Lempar pandang membuka kisah
lambaian senyum mengawali cerita
dari pekerjaan hingga hobi pribadi
dari kabar keluarga hingga rencana masa depan

Berlangsunglah...
Bertukar cerita
bertukar berita
bertukar pikiran

owh...owh...kesempatan mulai terbaca
massa dan dana siap dipertaruhkan
kawan dadakan menyelinapi sudut-sudut negeri
menata moral dekati ibu pertiwi
mengobral harapan bangsa sejati
mengharap suara memihak diri

Heyaweyaweyaweo...
Sang tuan sedang beruntung
mendapati mimpi dalam hitungan hari
pesta kemenangan berbulan-bulan
katanya, "ini amanah Tuhan"

Saudara dan kawan menuai rizki
Beberapa kursi siap diisi
Ratusan kebijakan siap diwarnai
dan proyek-proyek siap dilaksanakan
......Owhowh...lumayan bisa berbagi
Kebal hukum tak pernah mati

X
Oh, akal yang tertidur
Bersama silau mimpi engkau mendengkur
Beralas malas permadani sutra
dan dongeng surga menyelimut muka
Oh, akal yang tertidur
Bangunlah...bangunlah

Wahai hati yang terdampar
Mengikut jejak ombak engkau berlayar
Di kesunyian yang melenakan tempat berhenti
dan kedalaman renungan tak lagi berarti
Oh, wahai hati yang terdampar
Kembalilah...kembalilah

Yang menyatukan kita bukan kata
Yang menyatukan kita bukan kursi
Yang menyatukan kita bukan baju
Yang menyatukan kita adalah hati

XI
Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...

Ada yang datang... ada yang datang..., minggirlah... minggir... tamu istimewa itu sudah datang... membawa nasibmu ... membawa nasibku

Wooo..nge... yoo...lo..qo..ra.ve...zoga...ya...du..ka.. kasih ruang... kasih jalan...oriza....zesodi di sini ada pesta di sini ada pesta
He..koba..do...ca..se...rera..ho...orang besar sedang turun ke bawah ....hoooo calon pembawa perubahan...weooohaye calon pembawa perbaikan….woheyoweo...sore....pa..gi...malam.....
weooohaye...sore....pa..gi...malam.......mengunjungi genangan air mata
Dengar... dengarkanlah.....wooogerahoiplewki...da..se...cao..we..ra..ge....horehore....
Pada lidahnya segala api ..... pada lidahnya segala api .....kilamuuu...flaaaaa....se.......laaaaaalliii....lihat... lihatlah...
Pada matanya segala tanda ... Pada matanya segala tanda ...hore..ba...a....ra.....gammm.....wa..rna......

Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...

Ha... haye... raheso..re..pa..gi..ma..lam...ha... hari ini mari berpesta
Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi....ra.....sa...kan.....
Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi..ra.....sa...kan.....
Rasakan... apa saja pesta..ri..a...pesta..ria...pesta riang..pesta... riang.. kan....riangkan siapa.....pa...pa....da.. pesta .... yang....di ada-ada saja....


XII
Tak semua niat baik akan berjalan baik dan berakhir baik,
tak semua pekerjaan baik diniati baik, berjalan baik dan berakhir baik.

Merah kuning hijau biru putih hitam…
Merah kuning hijau biru putih hitam abu-abu…

Lih-Pilih-pilih
Pilihan-pilihan dipilah-pilah
Lih-pilih-pilih
yang dipilih dilihat-lihat
Lih-pilih-pilih
yang dilihat dihati-hati
Lih-pilih-pilih
yang dihati dipilih-pilih

Kairo, 12 Maret 2009

Selengkapnya...

Begitu panggung dibuka, (A), seorang buta, duduk bersandar tiang, menggesek biola tuanya. Di depannya, ada sejenis gelas, berisi kopi, masih berasap. (A) berhenti menggesek biolanya, memandang ke kiri, mendengarkan sesuatu. Ternyata (B) sedang berisik, merobek-robek kertas, sedang marah. (B) melihat (A) sedang mencari-cari suara yang didengarkannya. (B) berhenti. Tertegun. (B) berdiri, jalan perlahan menghampiri (A), dipandanginya (A); mata, biola, dan secangkir kopinya. Kaca mata yang semula dipakai (B), dilepas dan dikenakan ke mata (A). (B) berdiri kaku menatap (A).

(C) baru datang, membawa buntalan sarung yang diikatkan di tongkat. Ia memanggulnya dengan bantuan tongkat tersebut. Sulit berjalan wajar, tubuhnya tertarik bumi. Berdiri di tengah persimpangan, melihat sekitar kiri-kanan. Dihampirinya kasur, dan tubuhnya merebah. Bangun lagi, mengeluarkan jam dinding dari buntalan sarungnya, lalu dipasangnya di tembok dekat kasur. Maka tidurlah ia dengan pulas. (D) datang, ia juga membawa buntalan sarung diikatkan di tongkat, dan mengikuti jejak (C). Ia tidur di samping (C). Lalu (A) berdiri, sambil meraba-raba tubuh (B) yang di berada di depannya, ia memasangkan kembali kaca mata ke (B). (A) mengambil rangka pigura, dan menggantungkannya di tiang persimpangan. Lalu bersimpuh di tengah persimpangan jalan, sambil meneriakkan sajak yang sudah dihapalnya:

PERSIMPANGAN
Sudah cukup kumerasai
Sekumpulan cerita yang kau bilang dera
Bukan rindu rupa aku mengiba
Rinduku rebah kepada makna
Yang menyatu tanah, udara, air, dan api
Hingga lupa,
Melihat tubuh terbaring berkeringatkan asa
Berlarut-larut
Puisi pagiku sembilu
Mencium batu nisan di teras rumah
Denyut perih tak terbilang zaman
menemukan diriku di tengah padang.
Aku di sini
suka mereka yang mengejar gelombang,
menyeret buih timbul-tenggelam
kini, giliran gelisah menjemput
dan aku tersangkut di negeri seberang
Susah berdamai dengan rasa
dan wajah tambah buram pecahkan kaca
Semakin buta
membingkai persimpangan jalan kita
untuk pertemuan yang meniada.

(E) datang ke panggung dengan merangkak, terbalut perban putih, dan membawa kain kanvas putih. Mencoba tetap bertahan, dari sakit yang perih. Digapainya bingkai kosong. Dan kain putih tersebut dipasang di kerangka bingkai. Lalu, (E) memutari (B) dengan merangkak, selama tiga kali. Kemudian (B) perlahan-lahan jatuh, dengan cara berputar-putar, seperti orang mau pingsan. Selanjutnya, (E) meninggalkan panggung. Si (C) terbangun, dibukanya sebuah bingkisan. Dicari-carinya suatu barang, dan ia tak mendapatkannya. Tiba-tiba ia merasa janggal. Lalu ia menoleh ke belakang, dan didapatinya bungkusan yang lain, juga seseorang yang tidur disampingnya. Namun ia terlanjur mendapati sepucuk surat dari buntalan kawannya, yang kemudian dengan diam-diam dilemparnya ke sampah. Lalu, ia melihat-lihat lagi buntalannya sendiri. Dilihatinya foto-foto keluarganya, lalu dirobek dan dibuang di tempat sampah. Dan tidur lagi. (F) dan (G) masuk panggung, keduanya memakai topeng, keduanya berjalan saling membelakangi. Jatuh. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan. Mereka membawa cermin berdebu. Dan dipasangnya di salah satu sudut ruangan. Dilakukannya gerakan tari bebas di depan cermin. Si (A) menghampiri sumber suara, (F) dan (G) menghentikan gerakan. Lalu dituntunnya (A) untuk ikut bercermin. Dan ternyata? (F) dan (G) baru sadar bahwa (A) buta. Setelah bercermin, kedua orang tersebut (F dan G) merasa mendapat ilham. (A) masih tetap melakukan peragaan sendiri. Dan (F) dan (G) melakukan gerakan-gerakan semacam kipas-kipas ke (B), bermaksud membangunkan. Ada sekitar 9 kipasan.

(F) dan (G) kemudian mendekati (C) dan (D), berusaha mengipasi untuk membangunkan. Baru dua kali kipasan, namun tiba-tiba dihentikannya pada awal kipasan ketiga. Mereka berdua berpikir sejenak, sesekali memijit-mijit keningnya. Lalu digapainya jam dinding dekat kasur, dan dipasang lagi pada tempat semula dalam keadaan terbalik, angka nomor 6 di atas, dan angka 12 di bawah. Kemudian, (F) dan (G), dengan cara berlompat-lompat meninggalkan panggung. Pada saat yang sama, Si (B) bangun, dengan ekspresi kedinginan, ia menggigil. Dan, saat sudah berdiri, ia melihat (F) dan (G) sedang mengkipas-kipasi (C) dan (D). Melihat itu, ia semakin merasa dingin. Lalu, dilihatnya kanvas kosong menggantung di tiang kerangka persimpangan jalan. Lalu dibawanya kanvas itu ke meja, dan ia gambari dengan cat minyak. Ia melakukan gerakan-gerakan melukis.

Si (D) terbangun, lalu dicari-carinya sepucuk surat di dalam buntalannya, dan ia tak menemukan. Pada saat yang sama, (B) yang masih melakukan gerakan-gerakan melukis di atas meja, tak sengaja mendapati sebuah surat di keranjang sampah. (B) penasaran, lalu ia berdiri di atas meja, menghadap penonton, mencoba membacanya dengan gerak bibir tanpa suara. (B) baru sebentar berdiri. Dan seketika itu, (D) mendekati (B), lalu dipandangnya mata (B). Serta merta (B) turun dari meja, dan memberikan kertas itu pada (D) dan meminta membacakannya di atas meja. Dan (D) menyanggupi. Dibacalah apa yang di kertas itu dengan lantang. Saat (D) membaca, Si (A) dan (B) mendekatinya, sambil memegang kaki dan badannya. Isi kertas itu berupa puisi:

CATATAN PENGELANA
Kan ku telusuri suatu negeri, di panjang dan lebarnya
Sampai ku raih harapku, atau dalam keterasingan aku mati
Jika diriku terbelok, kuharap engkau mau meluruskan
Jika diriku terselamatkan, niscaya sebentar lagi aku kembali
Rindu memuncak untuk pergi ke Mesir
Paling tidak kulintasi luasnya padang pasir
Demi Tuhan, tak tahu apa keberuntungan bisa kudapat
Atau di liang kuburan diriku tersumbat
Muncullah aku, lalu tak ku jumpai seorang kawan
Dalam prahara atau gembira aku berteman
Kubuang keraknya karena banyak kejelekan
Kubuang pucuknya karena sedikit kebaikan
Berkelanalah aku dengan segenap jiwa
Bukan perpisahan benar menjadi api
walau hidup harus menyendiri
Jika kutemani kumpulan orang-orang dalam kelana
Jadilah aku seperti saudara tercinta
Dengan aib sendiri,aku kelana punya mawas dan indera
Dengan aib kawan,sepasang mataku aku butakan
Tak ku ambil peduli, di setiap kelam orang-orang yang kulalui
Tapi kubilang: “Mari tetap pada jalan ini!”
Jika aku ambil peduli, mereka kan menyingkiri
Jadilah aku di buana ini tanpa kawan menemani
Ku lihat genangan air merusak kejernihan
Jika mengalir maka indahlah, jika tersumbat maka keruhlah
LihatSinga yang tak meninggalkan sarang, secuil mangsa pun tiada
Dan kalau panah tak tinggalkan busur, bagaimana sasaran tertawan
Janganlah bilang, mentari hanya berhenti di poros
Bosanlah bosan manusia memandang
Andai purnama tak terbenam ke peraduan
Tak terlihat di mata sekuntum perhatian
Tak ada tempat istirahat bagi orang berakal-berbudi
Maka berkelanalah aku dan meninggalkan negeri
Berkelanalah aku…
Berkelanalah aku…
Berkelanalah aku hingga sampai juga diSini
Roda kaki biar berpacu
Berpacu hingga melesat seperti peluru
Dan baru akan pulang-kembali
Saat aku menjadi berarti

Si (D) lalu turun dari meja. Dilipatlah kertas itu, dan diberikan ke (B). (D) mengambil buntalannya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan panggung dengan berjalan mengangkat tumit. Sedang (A) yang semula termangu, lalu mengambil lukisan di samping meja, untuk kemudian dipasangnya di tiang persimpangan jalan. Lalu, (A) meraba-raba lukisan, menampakkan bahwa ia yang bermata buta sedang membaca lukisan. Lantas ia duduk menyandar tiang persimpangan jalan, seperti awal mula ia masuk panggung, sambil beberap kali menggapai-gapai kopinya, untuk diseruputnya dengan tenang. Digeseknya kembali biola tuanya itu.

Pada saat yang sama, setelah (D) habis membaca puisi, (B) membersihkan kotoran-kotoran sampah yang berserakan. Dijumputinya kulit kacang untuk kemudian dimasukkan ke keranjang sampah. Dikumpulkanlah buku-buku yang bertebaran di sudut-sudut ruang. Dikumpulkannya lembaran-lembaran kertas yang berceceran, dan disusun kembali, lalu ditaruhnya dengan rapi di atas meja. Berhenti sejenak, seperti sedang berpikir. Ia mendekati keranjang sampah, lalu dimasukkannya lengan tangan bagian kanan ke dalam keranjang sampah, ia sedang mengambil sesuatu. Ya, ternyata dua buku tua dan sebuah koran diangkatnya. Ia membersihkannya dengan tangan dan mengeluarkan semacam udara dari dalam mulut untuk diarahkan pada buku dan koran tersebut. (B) duduk di depan meja, dan sibuk menulis-membaca. Ruangan terlihat rapi.

Biola (A) berhenti berbunyi. Dan (C) bangun. Ia berdiri, lalu berjalan mengelilingi semua sudut ruangan. Semua barang, ditatapnya dengan penuh keheranan; orang yang tidur di sampingnya sudah tak ada, ruangan jadi rapi, ada lukisan tergantung, ada cermin terpasang. Dan ia melihat (A) sedang sibuk dengan biolanya, (B) sedang membaca-menulis. Dan ia sendiri jadi bingung, tentang apa yang harus ia kerjakan. Berhenti sejenak, saat ia berada di antara meja dan tiang persimpangan. Ditundukkan kepala, sambil menarik nafas dengan perlahan, ia sedang merenungkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia angkat kepala dan membuka mata lebar-lebar. Ia tidak berpindah tempat, namun ia memutar-mutar badan, dan dilemparkannya tatapan kedua mata dengan tajam. Sambil menyapukan tatapan mata pada setiap sudut ruangan, ia berharap mendapat jawaban. Tak ada yang janggal, semua baik-baik saja. Ia pun tak mendapat apa-apa. Tapi entah, sorot mata enggan berkedip. Diawasi lagi setiap sisi dari ruangan. Kali ini lebih tajam. Seperti ada yang terlewati. Benar. Kini, sorot mata jatuh pada sebuah benda, cermin di ruangan itu ternyata penuh debu. Dihampirinya cermin tersebut, dan diusap dengan mukanya. Setelah selesai mengusap, ia sendiri bercermin, dan ternyata diketahuinya bahwa ada kotoran di muka. Ia membersihkan dengan telapak tangan kanannya. Baru pada usapan pertama, ia lantas menghentikannya. Lalu telapak tangan ditatapnya dengan mata, dan ia lihat juga lewat cermin, ternyata telapak tangannya menjadi kotor. Ia pun menuju tempat di mana ia menaruh buntalan miliknya. Ia mengambil sepotong kain, lalu ia kembali ke depan cermin, dan membersihkan muka dan tangannya. Setelah itu, dilihatnya kain yang berdebu, kotor. Kain tersebut dibuangnya di sampah. (C) berdiri di dekat keranjang sampah, dan tiba-tiba ia mendapati sebuah jam dinding dipasang terbalik. Lalu ia membenarkan kembali. (C) bergegas meninggalkan ruangan panggung, sambil bejalan santai, merunduk ke depan, dengan tongkat di atas bahunya yang membawa sebuh buntalan.

Di atas panggung tinggal dua orang, (A) dan (B). (B) menghentikan pekerjaan membaca dan menulisnya, ia menghampiri (A) di persimpangan jalan. Mereka berdua berdilog. Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih. Suara Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar alunan musik biola, gitar, harmonika, mengiring-iringi bersahut-sahutan. Dialog terasa akrab. Warna cahaya berubah pelan pelan. Musik sendu mengalun. (B) mengawali pertanyaan. (B): Sebetulnya siapa dirimu? (A): Sebegitu pentingkah siapa diriku, hingga kau harus mengenalnya? (B): Bukan begitu, aku ingin bertanya, di manakah kita saat ini? (A): Ooo, ya, di mana, di mana, di mana kita saat ini? (B): Mengapa kita di sini? (A): Ya, mengapa kita di sini? (B): Untuk apa aku di sini, untuk apa kita di sini? (A): Oooo, ya, untuk apa, untuk apa kita di sini? (B): Di mana kita? Untuk apa kita di sini? (A): Ya, di mana kita? Untuk apa kita di sini? (B): Ya sudah, kalau memang kita tidak tahu di mana kita saat ini, mengapa sampai di sini, dan untuk apa di sini, mari kita pergi dari sini, biarpun tak tahu harus ke mana.

Demikianlah naskah teater garapan Duntara Badai Saka yang berjudul Persimpangan Kairo. Namun sayang, banyak adegan-adegan di luar teks. Biarpun tak keluar dari tema besar yang diangkat, namun cukup menjadi masalah, paling tidak bagi penonton, yang untuk memahaminya perlu konsentrasi lebih serius lagi. Juga karena lampu yang terbakar, cukup mengganggu jalannya pementasan. Tapi tak dipungkiri, bahwa teater ini adalah cara mereka menyampaikan pesan, seperti kita menyampaikan pesan kepada orang lain, dengan caranya yang lain pula.

Selengkapnya...

Islam bukan partai politik. Perjalanan sejarah cukup menjadi bukti, bahwa politik tak menjamin orang yang memiliki pengetahuan agama dapat selamat dari kesalahan, bahkan sahabat Nabi sekalipun. Terlalu dini untuk menyatakan bahwa Islam itu melingkupi segala hal, termasuk politik, suatu cara menghibur diri yang dianggap paling tepat untuk membela agama.

Sesungguhnya kebenaran itu datangnya mendahului manusia. Kebenaran terlalu sering berada pada posisi yang beragam: tersembunyi, disembunyikan, tertutupi, ditutupi. Dan sebagian manusia lebih sering mencari pembenaran daripada kebenaran. Tak ada yang lebih penting dari apa yang diutuskan Tuhan terhadap Nabi Muhammad SAW, kecuali mengajak manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu satu, juga memperbaiki moral-etika. Bukan untuk sebagian kelompok, melainkan sebagai rahmatan lil alamin. “Kamu sekalian tentu lebih tahu tentang urusan duniawimu,” demikianlah kata Nabi terhadap kaumnya. Ia memberikan jarak, antara urusan duniawi dan ukhrowi, biarpun keduanya memiliki hubungan. Seperti politik, sesuatu yang lebih dekat dengan urusan duniawi: kekuasaan, jabatan, monopoli, kepentingan pribadi. Lalu sebagian orang berteriak lantang, bahwa politik adalah mutlak urusan agama, sambil lupa diri atau mungkin melupakan diri, bahwa sejatinya manusia adalah tempat luput dan lupa. Sedang mereka tak hirau pada sebagian pendapat lain, bahwa perbuatan tersebut sama halnya mempertaruhkan agama, mirip judi.

Tak ditemukan terma siyasah (politik) dalam al-Qur’an maupun Hadits. Namun ada pelajaran, Nabi Muhammad SAW menghindar dari arus besar politik. Waktu itu, saat beliau ditawari sebuah kerajaan dan menjadi pimpinan Quraisy, ia menolak, lalu mengatakan dengan tegas: itu bukan bagian dari risalah saya. Bukan berarti tak berpolitik, rasanya perlu sejenak memperhitungkan adigium lama, manusia adalah makhluk politik. Dan Nabi pun juga manusia, biarpun dalam kategori manusia pilihan. Menghadapi berbagai perbedaan, ujian, cobaan, tentu beliau harus menggunakan strategi. Strategi sebagai langkah politik. Strategi adalah bagian dari cara mencapai tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri, namun sebagian manusia sering terjebak, bahkan menjebakkan diri. Dalam hal mengambil jalan politik, Nabi tak bertangan kosong. Ia punya bekal yang di kemudian hari menjadi teladan: intelektual tinggi dan baiknya kualitas moral. Seperti yang telah diprakarsai Nabi: Bai’at al-Aqabah, hijrah, piagam Madinah, adalah bukti atas kemampuan mengatur strategi. Maka, bukan hal mudah membangun masyarakat beradab dari pemimpin yang tanpa bekal, biarpun seluruh rakyatnya mendukung sekalipun.

Piagam Madinah telah menjadi semacam simbol, bahwa perbedaan, kebebasan, toleransi, persamaan penduduk, dan keadilan, perlu dibingkai dalam persatuan masyarakat, demi kepentingan bersama. Prinsip hubungan antara Islam dan selainnya dengan dasar bersaudara yang baik, saling membantu, membela yang teraniaya, saling menasehati juga menghormati kebebasan beragama, memberikan citra bahwa Islam adalah agama terbuka. Piagam Madinah adalah undang-undang dasar yang dibuat untuk mempersatukan pola pandang kehidupan bermasyarakat. Sedang yang belum tersuarakan dalam piagam, akan dimusyawarahkan secara kondisional. Waktu itu, Masjid Nabawi adalah tempat musyawarah mengenai keputusan-keputusan negara; perjanjian-perjanjian damai, perang dan sebagainya. Musyawarah telah menunjukkan kedekatan pemerintah dengan rakyat, bukti bahwa dalam urusan negara, tak ada penguasa tunggal yang punya suara mutlak, bahkan Nabi sekalipun. Karena yang dimusyawarahkan hanyalah permasalahan duniawi. Sebaliknya dalam urusan agama, Nabi lebih berwenang. Namun, Nabi adalah penyampai wahyu ilahi, bukan pemilik wahyu itu sendiri. Kesadarannya sebagai utusan, membuatnya berhasrat untuk menjadikan tatanan sosial Arab bercorak theocentric society, sebuah tatanan sosial yang menjadikan Tuhan sebagai poros kehidupan. Ini menegaskan bahwa kebenaran ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia. Demikianlah Nabi melaksanakan tugasnya sesuai apa yang diperintahkan kepadanya, tak lebih.

Tak ada negara Islam zaman Nabi, tak juga sistem politik. Yang ada adalah negara madani, negara persatuan yang didasarkan atas perbedaan-perbedaan: agama, suku, ras, dan adat istiadat. Nabi, dengan segala kemampuan dan kelebihannya, dianggap paling tepat menjadi pemimpin. Dan suara masyarakat bersetuju untuk hal itu. Sikapnya yang adil dan bijaksana telah membius hati para penduduk. Nabi sebagai satu-satunya utusan Tuhan, adalah teladan bagi seorang muslim. Tentu tak mudah untuk bisa seperti Nabi, mungkin mustahil. Bagi Nabi, ketika jumlah kaum muslim semakin bertambah, demi mempermudah pengelolaan dan pengaturan, maka perlu dibentuk tata cara dan aturan-aturan. Ada pengelolaan ekonomi, meliputi zakat, shadaqoh, upeti (jizyah), harta rampasan perang (ghanimah). Ada pengelolaan hukum, seperti lembaga peradilan (qodho’). Ada juga pengelolaan militer, seperti pasukan perang. Pengelolaan dan pengaturan itu demi memudahkan masyarakat muslim mengatur kehidupannya; menghidupi diri, memakmurkan diri, mensejahterakan diri, mengamankan diri, dan mendekatkan diri dengan Tuhannya. Yang demikian itu dianggap perlu oleh Nabi, suatu cara yang dibutuhkan pada masa awal penyebaran Islam. Lalu, oleh orang-orang, segala yang dilakukan Nabi tersebut, dibaca dan dianggap sebagai tindakan politik. Bukan sekedar aturan, melainkan sistem. Lebih berani, sebagian orang menyebutnya “sistem politik”, bahkan “sistem politik Islam”. Membaca nuansa politik di zaman Nabi, perlu kehati-hatian yang cukup, agar terhindar dari ketergesa-gesaan menilai. Mendasarkan kesimpulan dari gambaran dengan tingkat kejelasan yang tinggi, begitulah seharusnya.

Nabi wafat, dan ia tak mewasiatkan apa-apa terkait politik dan pemerintahan. Posisi tertinggi kepemimpinan juga dibiarkan kosong tanpa menunjuk pengganti. Ada beberapa kemungkinan, diantaranya; pertama, Nabi memberikan ruang pada penerusnya untuk bebas menentukan pilihan, antara diteruskan atau tidaknya kursi kepemimpinan. Kedua, Nabi memberikan ruang sebebas-bebasnya dalam hal menentukan pengganti dengan cara-cara yang dianggap paling baik oleh generasi penerus. Ketiga, jabatan kepemimpinan tak perlu diteruskan. Dan tentu masih banyak kemungkinan lain. Tapi paling tidak, ada prinsip-prinsip umum yang bisa diambil; pertama, tak ada perintah dan larangan dari Nabi dalam hal politik dan pemerintahan. Kedua, tak ada ketentuan yang menjelaskan hal-ihwal mekanisme pemilihan pemimpin. Dengan demikian, imamah bukanlah rukun iman, melainkan wilayah ijtihad. Begitulah cara Nabi memegang prinsip, bahwa ada risalah kerasulan yang lebih penting dan utama: al-Quran dan Hadist, satu-satunya wasiat, pegangan hidup bagi manusia yang tersebar di zaman dan tempat berbeda.

Pengelolaan peradilan, ekonomi, dan keamanan perlu dipertahankan, bahkan dikembangkan. Ajaran Islam dari Nabi perlu disampaikan, bahkan disebar-luaskan. Untuk itulah kursi kepemimpinan merasa perlu dilanjutkan. Saat Nabi sebagai pemegang otoritas wahyu sudah tiada, inilah masa transisi dari masa wahyu ke masa tafsir, suatu kejadian di masa Khulafa' ar-Rasyidin. Hal ini nampak sekali pada perbedaan tata cara pengangkatan pemimpin, antara satu khalifah ke khalifah lain. Abu Bakar ditentukan oleh komponen Muhajirin dan Ansor, Umar dengan surat wasiat, Utsman dipilih oleh Ahlu al-halli wa al-aqdi dari komponen Muhajirin-Quraisy, dan Ali dipilih oleh rakyat umum. Pun demikian masa-masa setelahnya. Meletusnya kejadian fitnah kubro, terjadinya perang Jamal, perang Shiffin, juga Tahkim (arbitrasi) atau perundingan antara blok Ali dan Muawiyah yang berujung pada munculnya sekte-sekte Islam, adalah bukti bahwa perbedaan penafsiran, perbedaan pandangan dalam hal politik kekuasaan, menjadi salah satu penyebab terpecahnya persatuan. Kalau sudah demikian, adakah hal yang lebih baik dari upaya mengambil pelajaran?

Saat Tahkim, di barisan Ali ada Abu Musa al-Asy’ari dan di blok Muawiyah ada 'Amr bin Ash. Abu Musa al-Asy'ari merasa dicurangi, ia berbicara dulu dengan menyatakan keputusannya untuk menurunkan Ali dan juga Muawiyah dari posisi kepemimpinan, sedang saat 'Amr bin Ash berbicara, ia malah menjelaskan bahwa Muawiyah adalah penerus Utsman. Paska Tahkim, umat Islam terbagi tiga: pertama, blok Muawiyah. Kedua, blok Ali yang kemudian melahirkan Syi'ah. Ketiga, Khawarij, pihak yang keluar dari barisan Ali disebabkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Ali yang menerima Tahkim. Perpecahan semakin menjadi. Di tahun 41 H. muncullah ‘am jama’ah, sebuah masa persatuan yang mencoba mencari titik temu atas beberapa kecenderungan yang menganggap persatuan umat Islam lebih penting dari segalanya. Suatu tahapan sejarah yang lahir setelah Hasan, seorang yang secara garis keturunan seharusnya menjadi pengganti Ali, ternyata berdamai dengan Muawiyah. Pada saat inilah harapan persatuan Islam mendapat perhatian besar, umat Islam bersatu dalam satu khalifah, Muawiyah. Namun seperti biasa terjadi dalam politik, rencana dan keadaan bisa berubah sewaktu-waktu. Pada akhirnya, bukan lahir kesepahaman, melainkan memuncaknya perbedaan epistemologi yang saling bertolak belakang.

Muawiyah berkuasa penuh. Dengan kekuasaannya, ia mulai berani merubah banyak hal. Pada Am Jamaah, di masjid Nabawi Madinah, Muawiyah berpidato, ia akan melakukan pemutusan model politik Khulafa' Rosyidin menjadi politik monarki. Pernyataannya itu menjadi semacam kontrak politik. Ia menegaskan bahwa Muawiyah tidak mengikuti jejak Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Model politik yang dipakai adalah monarki yang mendasarkan pada asas maslahat negara, dengan tanpa mengangkat pedang. Namun pada perkembangannya, yang maslahat bagi negara juga harus maslahat bagi keluarga istana, klan Umayah. Demi memperkuat legitimasi kepemimpinan, Muawiyah mendeklarasikan diri berideologi Jabariyah, dengan konsep utama tentang qhada' dan qadar. Menurutnya, kekusaan Muawiyah adalah pemberian Allah. Pada fase ini, Muawiyah mulai menarik-narik politik ke wilayah ideologi, sebuah potret politik dengan bungkus agama. Maka kemudian, perang pun meluas ke wilayah pemikiran. Khawarij sebagai oposisi Muawiyah dan Syi'ah, tak terima. Ia melemparkan konsep tandingan, bahwa iman tak terpisah dengan amal. Baginya, siapapun yang meninggalkan sholat, puasa dan berbuat dosa besar maka keluar dari Islam, bahkan yang berbeda dengan mereka. Oleh karena itu, 'Aisyah, Talhah, Zubair, dan para pengikut perang jamal semuanya kafir, Abu Musa al-Asy'ari dan Amr bin Ash pun kafir, juga Muawiyah. Khawarij juga berpandangan, bahwa jika pemimpin berbuat zalim, maka pengikut wajib keluar dari barisan imam. Maka, kerelaan Ali terhadap Tahkim adalah salah. Keluarnya dua belas ribu orang dari barisan Ali, yang kemudian bernama Khawarij, adalah benar. Bagi Syi’ah, pandangan Khawarij tersebut teramat menyalahkan Ali, sebuah penghinaan kepada khalifah umat Islam. Demikianlah peperangan demi peperangan antara kelompok-kelompok Islam.

Perang sudara terus terjadi. Syiah, Muawiyah, Khawarij, saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri. Lalu muncullah Murji’ah, kelompok yang berusaha menghindari perpecahan umat Islam. Baginya, iman tak hilang karena maksiat, dan pendosa besar ditangguhkan hukumannya hingga hari kiamat, di bawah keputusan Tuhan. Muawiyah yang berkuasa, Khawarij yang keras dan Syi'ah yang fanatik, ketiganya sama beriman. Sebuah mazhab yang toleran, kelompok non-blok, dipimpin oleh Abdullah bin Umar dan Sa'ad bin Abi Waqqash, itulah Murji’ah. Bersamaan sikap menghindari perpecahan, lahir pula gerakan sufi. Kaum sufi yang bebas dan aktif. Bebas tak memihak dan menjauhi aktifitas politik, namun aktif menolak pertumpahan darah. Mereka menawarkan konsep taubat, dan menyatakan rendahnya dunia serta tingginya derajat akhirat. Kemudian lahir antitesa baru, kelompok Mu'tazilah. Hasil perdebatan Wasil bin Atho', pendiri Mu'tazilah dan gurunya Hasan al-Bashri tentang pelaku dosa besar yang dihukumi kafir oleh Khawarij, membuat Wasil tak puas. Pandangan sang guru bahwa posisi pendosa besar dipasrahkan pada Allah, bertentangan dengan keyakinan Wasil. Baginya, pendosa besar tetap mukmin secara iman tapi fasiq secara amal, posisi mereka ada di antara dua tempat (al-manzilat baina al-manzilatain). Dan tak ada cara lain untuk selamat di akhirat, kecuali bertaubat. Inilah sikap politik Mu’tazilah melawan Muawiyah secara halus. Dengan cepat, Mu’tazilah mulai berbicara tentang imamah, hingga menyeretkan diri ke wilayah politik. Aliran yang mengedepankan akal ini, melakukan ta'wil besar-besaran terhadap teks al-Qur'an dan al-Hadits. Hal ini merangsang lahirnya Ahlussunnah, mazhab yang berusaha menggunakan nash dan akal secara seimbang. Mulanya, akademisi mazhab ini menjauh dari aktifitas politik. Namun akhirnya juga menanggapi situasi politik, dengan mencari jalan tengah, bersikap netral, menerima umat Islam tanpa mempermasalahkan asal-usulnya. Mazhab yang dipelopori al-Asy'ari dan al-Maturidi ini, belajar menghargai perbedaan pendapat, tak seperti Khawarij yang mudah menghakimi, tak juga Syi’ah yang melebih-lebihkan Ali dibanding Mu’awiyyah, tak juga Mu’awiyyah yang merendahkan Ali. Bagi Ahlussunnah, Ali dan Mu’awiyyah adalah sama-sama sahabat Nabi, yang keduanya mempunyai posisi mulia. Masuk surga atau tidaknya seseorang, adalah rahmat Tuhan, namun manusia wajib berusaha, bagi pendosa besar sekalipun. Demikianlah Ahlussunnah berpendapat.

Berlanjut ke zaman Abbasiyah, corak politik sedikit berbeda. Kaum fuqaha’ sebagai tokoh agama, tak ingin perpecahan Islam terjadi untuk ke sekian kali, maka sikap lunak terhadap penguasa menjadi pilihan. Bagi fuqoha’, kedekatannya dengan penguasa dimaksudkan mempermudah menerapkan syari'at, tanpa mempermasalahkan pemegang kursi kepemimpinan seperti catatan sejarah sebelumnya. Dan penguasa Abbasiyah pun merasa diuntungkan, dengan adanya fuqoha’, status politik penguasa Abbasiyah menguat. Islam atau tidaknya negara, dilihat dari apakah negara melaksanakan hukum Islam atau tidak, tanpa menyoal justifikasi kepemimpinan, demikian pendapat fuqoha’ masa itu. Karena terfokus pada hukum, maka posisi fikih menjadi tema penting yang menentukan banyak hal. Pada saat inilah pertumbuhan fikih tak berjalan alami, ia dirancang dengan kecondongan untuk justifikasi pemimpin yang sedang berkuasa. Hingga pada pendapat, bahwa keinginan raja adalah keinginan Tuhan. Taat kepada imam adalah taat kepada Tuhan, Abbasiyah adalah keinginan Tuhan.

Akhirnya, sejarah mencatat, dan manusia seharusnya memahami apa yang terbaik yang harus diteladani, juga yang buruk yang harus ditinggalkan. Politik, aqidah, syariah, terlampau sering dicampur-adukkan, ditarik-tarik, dibungkus-bungkus, dihias-hias. Jelas, ada urusan duniawi yang menuntut manusia melakukan ijtihad, menyesuaikan tempat, waktu, dan segala sesuatu yang berubah. Politik adalah urusan duniawi. Dan fikih, bukanlah syariah. Syariah adalah ketentuan-ketentuan Tuhan, sedangkan fikih adalah pandangan-pandangan manusia. Seperti Nabi, yang menyampaikan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dengan beragam cara, sesuai ruang dan waktu, bukan dengan paksa. Teringat kata Ali: “al-Qur’an tertulis, tapi tak dapat berbicara. Manusialah yang berbicara atas namanya. Padahal al-Qur’an mempunyai banyak wajah”. Dan karena kita manusia, yang setiap pikiran, hati, dan jiwa tak diciptakan sama, maka akan selalu ada perbedaan. Maka, politik adalah ijtihad, bukan agama. Lalu, mengapa sebagian orang berteriak-teriak lantang, mendeklarasikan diri sebagai partai Islam? Jadi jelas sudah, bahwa partai Islam, bukan Islam.

Selengkapnya...