I
Tanpa jeda
Tanpa jarak
Aku berdiri di ruang tiada iklim tiada musim
Pertarungan belum usai
masih bisa menghitung yang mati
Seribu nyawa terkubur di sini
Pertarungan tetap belum usai
Sebelum semua membangkai
Pertarungan kan bermula lagi
Aku pemuda perlu memberi tahu
Di negeriku
Hukum alam berlaku diam
Hukum manusia tak berdasar nilai
Hukum Tuhan diperjualbelikan
Aku yang tertipu perlu memberi saksi
Sampai sudah masa
Kemanusiaan terhenti pada kursi jatuh
Aku berpikir bukan dengan akalku
Aku bergerak bukan dengan tubuhku
ini waktu seperti serdadu,
yang nampak di aku sebagai musuh,
yang nampak di kawan sebagai lawan,
sedikit ruang untuk berteman.
Aku yang tak punya kuasa ini
Tak bisa angkat mulut
Mata, hidung, telinga di simpan rapat di kotak-kotak,
Aku asing di badan sendiri.
Raga di sini, jiwa di seberang
II
Tak tercatat berapa
Bisik-bujuk lama sudah dipupuk
Seperti tak sudah-sudah
mesra partai politik mengelus
di pintu-pintu ia mengetuk
Menggebu dan berpura
Menabur rembulan dan matahari
Menyembunyikan buram kelam malam
Menjaring silau bias cahaya
Lalu hanyut hilang
dihujani langit dilahap bumi
III
Saluran darahku macet,
tersumbat oleh pamflet-pamflet politik.
dan Papan-papan reklame menghalangi penglihatan orang-orang akan keadaan yang sebenarnya.
Hingga lembutnya asap kepentingan-kepentingan sepihak tak mampu tersaring oleh hidung masyarakat yang kian bengkak.
Orang-orang dididik bukan untuk berpendidikan,
melainkan untuk menduduki kedudukan-kedudukan,
di kampung, di kota, di pemerintahan,
dan bahkan di lembaga-lembaga kesenian, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Jalur-jalur bebas hambatan di sesaki oleh penumpang-penumpang gelap,
dan kita tinggal menunggu waktu, penggulingan akan terjadi terorganisir.
Orang-orang dibimbing bukan untuk mencari jati dirinya sendiri,
melainkan sebagai cara melestarikan pemaksaan dan penindasan,
atas nama kebenaran dan kebaikan.
Orang-orang diajar kebebasan politik,
bukan untuk melatih keluasan dan keleluasaan jiwa,
melainkan menyuburkan kekangan dan kecurigaan-kecurigaan yang sempit.
Orang-orang diajak untuk bertanggungjawab,
Tanpa diberikan hak-haknya.
Orang-orang diajak untuk membangun badan,
Bukan diajak untuk membangun jiwa.
Orang-orang diajak untuk rapi dan bersih,
Bukan diajak untuk adil dan jujur.
IV
Hahaha....
Kita belum pernah benar-benar belajar untuk tak tergantung pada apapun dan siapapun.
Kita masih suka tergantung dan sengaja menggantungkan diri,
secara sosial, ekonomi, dan bahkan politik.
Setelah itu, kita beramai-ramai kesana-kemari menjadikannya sebagai berhala-berhala baru.
Kita sudah lupa, bahwa satu-satunya yang berhak kita jadikan gantungan,
adalah Tuhan yang maha pengasih, Tuhan maha penyayang, dan Tuhan yang maha bijaksana.
Kita menuhankan partai politik,
menuhankan golongan,
menuhankan aliran,
menuhankan apa saja yang tak pantas dipertuhankan.
Dan perlahan-lahan, kita mulai belajar menyekutukan Tuhan.
V
Anjing-anjing menjelma manusia
Tikus-tikus menjelma manusia
Bunglon-bunglon menjelma manusia
Toilet-toilet menjelma pikiran manusia
Sampah-sampah menjelma hati manusia
Batu-batu menjelma kepala manusia
Tembok-tembok menjelma muka manusia
Peluru-peluru menjelma mulut manusia
Pedang-pedang menjelma tangan manusia
Besi-besi menjelma kaki manusia
Manusia-manusia menjelma Tuhan
VI
Orang-orang ingin menang
Orang-orang ingin menang
Seperti serigala-serigala hutan
Seperti anjing atas kucing
Untuk kemenangan rela menyakiti
Untuk kemenangan rela menodai
Untuk kemenangan rela melukai
Untuk kemenangan rela membohongi
Untuk kemenangan rela membunuh
Untuk kemenangan rela memperkosa
Segala cara akan ditempuh
untuk kemenangan dan mengalahkan yang lainnya
Segala alasan akan ditaruh
untuk kemenangan dan mencari musuh
Jiwaku semakin lelah
terhadap kemenangan-kemenangan itu, aku bertanya
Kenapa orang-orang ingin menang?
Apakah itu tujuan kehidupan?
Kenapa orang-orang ingin menang?
Apakah itu arti kehidupan?
Aku bertanya.
Biarlah aku yang kalah
Biarlah aku yang kalah
Asal tak menyakiti, menodai, melukai, membohongi, membunuh, memperkosa
Biarlah aku tak menang
Asal tak menginjak pikiran dan nuraninya
Aku tidak ingin menang
Aku hanya ingin benar
VII
manusia lahir bukan tanpa tujuan,
dan aku mendapatimu tersenyum berbunga-bunga
Melihat orang tanpa sandang tanpa pangan
Dan kamu berjabat tangan padanya
Memberi sepotong baju bertuliskan namamu juga partaimu
VIII
Sebilah pisau mencoba meraba-raba pada keganjilan.
Darah yang tak tidur turut bergumam meringkus tanda.
Ohh... ternyata sirkus kata-kata telah menjadi dogma.
Pembodohan terencana menjadi sindrom merajalela.
Guna apa menari-nari dalam khalwat panjang.
Kalau klimaks cinta tak pernah terasa.
Mengapa juga menimba ilmu hingga muntah.
Kalau diri sendiri tak kunjung berada.
Pikiran orang lain sarat paradoks dan kontradiksi.
Bergugus-gugus aksara menjerit lara tanpa makna.
Gemuruh tawa melepas syahdu.
Dan kita masih menjadi orang lain.
IX
Lempar pandang membuka kisah
lambaian senyum mengawali cerita
dari pekerjaan hingga hobi pribadi
dari kabar keluarga hingga rencana masa depan
Berlangsunglah...
Bertukar cerita
bertukar berita
bertukar pikiran
owh...owh...kesempatan mulai terbaca
massa dan dana siap dipertaruhkan
kawan dadakan menyelinapi sudut-sudut negeri
menata moral dekati ibu pertiwi
mengobral harapan bangsa sejati
mengharap suara memihak diri
Heyaweyaweyaweo...
Sang tuan sedang beruntung
mendapati mimpi dalam hitungan hari
pesta kemenangan berbulan-bulan
katanya, "ini amanah Tuhan"
Saudara dan kawan menuai rizki
Beberapa kursi siap diisi
Ratusan kebijakan siap diwarnai
dan proyek-proyek siap dilaksanakan
......Owhowh...lumayan bisa berbagi
Kebal hukum tak pernah mati
X
Oh, akal yang tertidur
Bersama silau mimpi engkau mendengkur
Beralas malas permadani sutra
dan dongeng surga menyelimut muka
Oh, akal yang tertidur
Bangunlah...bangunlah
Wahai hati yang terdampar
Mengikut jejak ombak engkau berlayar
Di kesunyian yang melenakan tempat berhenti
dan kedalaman renungan tak lagi berarti
Oh, wahai hati yang terdampar
Kembalilah...kembalilah
Yang menyatukan kita bukan kata
Yang menyatukan kita bukan kursi
Yang menyatukan kita bukan baju
Yang menyatukan kita adalah hati
XI
Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...
Ada yang datang... ada yang datang..., minggirlah... minggir... tamu istimewa itu sudah datang... membawa nasibmu ... membawa nasibku
Wooo..nge... yoo...lo..qo..ra.ve...zoga...ya...du..ka.. kasih ruang... kasih jalan...oriza....zesodi di sini ada pesta di sini ada pesta
He..koba..do...ca..se...rera..ho...orang besar sedang turun ke bawah ....hoooo calon pembawa perubahan...weooohaye calon pembawa perbaikan….woheyoweo...sore....pa..gi...malam.....
weooohaye...sore....pa..gi...malam.......mengunjungi genangan air mata
Dengar... dengarkanlah.....wooogerahoiplewki...da..se...cao..we..ra..ge....horehore....
Pada lidahnya segala api ..... pada lidahnya segala api .....kilamuuu...flaaaaa....se.......laaaaaalliii....lihat... lihatlah...
Pada matanya segala tanda ... Pada matanya segala tanda ...hore..ba...a....ra.....gammm.....wa..rna......
Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...
Ha... haye... raheso..re..pa..gi..ma..lam...ha... hari ini mari berpesta
Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi....ra.....sa...kan.....
Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi..ra.....sa...kan.....
Rasakan... apa saja pesta..ri..a...pesta..ria...pesta riang..pesta... riang.. kan....riangkan siapa.....pa...pa....da.. pesta .... yang....di ada-ada saja....
XII
Tak semua niat baik akan berjalan baik dan berakhir baik,
tak semua pekerjaan baik diniati baik, berjalan baik dan berakhir baik.
Merah kuning hijau biru putih hitam…
Merah kuning hijau biru putih hitam abu-abu…
Lih-Pilih-pilih
Pilihan-pilihan dipilah-pilah
Lih-pilih-pilih
yang dipilih dilihat-lihat
Lih-pilih-pilih
yang dilihat dihati-hati
Lih-pilih-pilih
yang dihati dipilih-pilih
Kairo, 12 Maret 2009

Saturday, March 21, 2009
Labels:
Sastra
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment