<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801</id><updated>2012-02-16T18:50:02.419+02:00</updated><category term='Pemikiran'/><category term='Seni'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Muhammad Tabrani Basya  &gt; Situs Pribadi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-8693209043085500129</id><published>2009-03-24T12:14:00.010+02:00</published><updated>2009-03-24T12:32:29.596+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Qurban Fitrah; Saat Rumput Berbicara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku jadi mulai memahami tentang makna hidup,” kata rumput pada ular, “aku merasa perlu berterimakasih pada cacing tanah”. Kehidupan adalah air mengalir, mengikuti segala aturan ruang dan waktu, bisa dari air sungai atau sekumpulan embun yang diberkati. Aku sangat menyukai kesuburan, untuk itulah aku punya dendam dan kebencian yang mendalam atas kegersangan. Pernah suatu ketika dengan asap yang karenanya diriku terhalang dari udara. Dan setiap yang berlalu-lalang di sekitarku tak mampu melihatku, sangat kabur dan menyesakkan hidung. Bagi siapa saja yang menyalakan api dan menyemburkan asap, harus berhadapan dengan rintik hujan. Aku bukan melati, juga bukan marijuana yang terlalu mudah untuk engkau temukan biarpun matahari dan bulan diselimuti kabut. Ada yang saya rindukan, yaitu para domba dan sapi yang digembalakan tuannya. Sebenarnya juga memuakkan, karena kerakusannya merusak kelestarianku. Sejak manusia menjadi tuan atas gembalaannya, tak kutemui kupu-kupu hinggap menari di kepalaku. Lestariku tidak untuk mengabadi, hanya belum siap menghadapi kematian yang mendahului takdir maha kuasa.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian makhluk yang pernah kutemui meyakini bahwa untuk hidup mulia perlu sebuah ketinggian, juga menaikinya, bahkan memujanya. Beruntung, aku tak mengharuskan diriku unuk melakukan sesuatu yang tak mungkin aku lakukan. Biarpun untuk bersikap-berkata seperti itu, sejenak tertanam benih kesombongan. Seharusnya segala yang terjadi pada diriku cukup menjadi pelajaran, agar burung elang yang berakrobat di atasku tak melihat ketololanku berulang kali. Daun-daun gugur, kembang-mengembang lagi. Air, udara, tanah dan api bersatu mengurai simpul-simpul kusut, menjauhkan aku dari arak-arakan  racun dari arah yang tak disangka-sangka. Celakalah bagi yang tak kenal cuaca dan musim! Dinding langit tak bisa ditembus, kecuali bagi mereka yang berhati lembut. Sedikit yang tahu, bahwa pintu langit masih terbuka, tetapi cukup harus berpikir seribu kali untuk masuk. Karena yang telah terjadi, hal-hal besar akan menggoyahkan; ketakjuban besar, keserakahan besar, kebahagiaan besar, jabatan besar. Dan tiba-tiba, jatuh berkeping-keping dengan kecepatan yang melebihi cahaya. Dan tanpa disadari, mereka tak hanya menembus langit, tapi juga menembus bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, fajar terlalu cepat menghampiri. Ia tak rela jika bulir-bulir embun harus membasuh kekusamanku terlalu lama. Keseimbangan memang perlu dibayar mahal. Laksana cakrawala, yang bernyanyi berpesta ria di kedalaman jiwa. Celotehanku adalah bau kotoran manusia. Kurang jelas, berapa jumlah kotoran yang sempat kutampung. Bentuk dan warna beragam sangat. Sebuah cara yang cukup membantuku untuk lebih serius belajar mengenali aroma. Aku datang bukan dari pagi, siang, sore atau malam. Untuk pekerjaan yang kulakukan, aku acuh segala latar belakang. Aku tidak hidup dari, oleh dan untuk. Segala kejadian hampir selalu lepas dari kendali; meleset, terlewati, terhianati. Aku pendamba kehidupan, tapi tak cukup berani untuk menyebar akar di banyak penjuru permukaan bumi. Tentu setiap makhluk harus mengerti di mana tempat yang tepat untuk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi cahaya, aku bukan pengembara. Aku tak kuasa berjalan, lari, apalagi. Kaki-kakiku tertanam, dan yang kuwajibkan pada diriku hanya tumbuh, dengan tanpa tergesa-gesa. Aku juga tak mugkin terbang, karena hal demikian hanya bagi mereka yang mampu melawan angin. Aku harus bergoyang, menari, biar sendi-sendiku patah sekalipun. Gerakku mengikut, tak sempat memimpin. Itulah hari-hariku, dan aku tetap percaya tak lebih buruk dari yang pernah aku saksikan di luar sana. Kebaikan dan keburukan memang sering dijadikan dasar menyikapi dan menilai sesuatu. Begitu pula kebenaran. Sesungguhnya kebenaran bukan karena dibuat-buat, melainkan sudah ada sejak lama. Cuma seringkali ia berada pada posisi yang unik; tersembunyi, disembunyikan, terbuang, terkoyak. Dan akhir-akhir ini, ia malah telanjang, dijadikan arak-arakan, tontonan, sekaligus hiburan, serta sudah mulai laku untuk diperjual-belikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang patut dipuji, dari seunggun api kebanggaan yang kumiliki. Bukan kebahagiaan benar yang aku cari, melainkan debu kesedihan yang lama kutunggu-kunanti. Entah telah melewati purnama yang ke berapa aku ayunkan helai daun untuk langit angkasa yang terang, sedang bintang-gemintang semakin temaram masuk ke celah-celah kecil pori-poriku. Celakalah aku! Indra perasaku terlampau terbiasa untuk kelu saat mengecapi sembarang rasa. Aku masih belum bisa dan rasanya sulit untuk bisa menerima sesuatu yang tawar. Manis, masam, asin, pahit, pedas, masih teramat berharga untuk membantu aku menyerap sari-sari kehidupan ke dalam diriku. Tak ada sisa dari yang tersajikan, semua kulahap beserta ketebalan kulitnya. Bahagia. Buas, aku semakin buas! Beginilah aku yang tak mengenal neraka. Teringat samar, aku pernah mendengar, bahwa Tuhan mencipta neraka dengan kasih sayangNya. Dan dalam tempat perhentian ini, aku masih sulit memberi kasih sayang. Lalu, segala yang hijau yang berdiri di atas permukaan tanah ini, berubah layu, coklat, meranggas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rumput kecil yang tak punya kehendak, Tidak heran kalau aku tak pernah menjadi apa-apa. Tapi, yang alami dan murni selalu menjadi jiwa kehidupan. Aku harus diinjak biar berguna. Aku harus dipotong agar rapi. Dengan demikianlah aku menemukan diriku. Bukan seperti pohon-pohon besar. Jangan kau injak pohon-pohon besar, jangan kau potong!  Ada yang harus dikerjakan bagi mereka, dan ada yang harus dikerjakan bagiku. Keselamatanku adalah pada saat menyelamatkan yang lain, dan keselamatan yang lain adalah saat menyelamatkanku. Beberapa burung yang kulihat, nampak memiliki perkumpulannya sendiri. Demikian halnya semut-semut yang bertebaran di muka bumi. Mereka saling berdiskusi, entah membincangkan apa, mungkin aku terlalu dungu. Atau aku yang memang licik, menganggap itu tak terlalu penting, dan tak terlalu dibutuhkan. Dan aku suka mengabadikan hal-hal semacam ini. Mengabadikan kisah yang terpotret tak sempurna, sedang aku menganggapnya sebagai teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang tidak aku sukai. Tetapi bukan untuk itu aku membenci sesuatu. Mungkin perlu segenang air keruh untuk bercermin. Tak bermaksud melihat wajah asliku, karena tentu aku sudah tahu wajah asliku, dan kali ini aku hanya memerlukan sesuatu untuk menghibur diri, bahwa mukaku yang keruh bukan berasal dari diriku, tapi air yang di depanku. Ah, sudahlah. Aku tetap beriman pada sebuah kebijaksanaan sederhana masa lalu, bahwa aku tetaplah aku. Aku mempunyai fitrahku sendiri. Aku juga mempunyai cara berkorban sendiri. Tak perlu lagi aku berceloteh, biarpun aku memiliki kebebasan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah rumput berbicara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-8693209043085500129?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/8693209043085500129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=8693209043085500129' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/8693209043085500129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/8693209043085500129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/qurban-fitrah-saat-rumput-berbicara.html' title='Qurban Fitrah; Saat Rumput Berbicara'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-1526078664265523626</id><published>2009-03-21T17:28:00.001+02:00</published><updated>2009-03-21T17:30:16.242+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>PEMILU</title><content type='html'>I&lt;br /&gt;Tanpa jeda&lt;br /&gt;Tanpa jarak&lt;br /&gt;Aku berdiri di ruang tiada iklim tiada musim&lt;br /&gt;Pertarungan belum usai&lt;br /&gt;masih bisa menghitung yang mati&lt;br /&gt;Seribu nyawa terkubur di sini&lt;br /&gt;Pertarungan tetap belum usai&lt;br /&gt;Sebelum semua membangkai&lt;br /&gt;Pertarungan kan bermula lagi&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pemuda perlu memberi tahu&lt;br /&gt;Di negeriku&lt;br /&gt;Hukum alam berlaku diam&lt;br /&gt;Hukum manusia tak berdasar nilai&lt;br /&gt;Hukum Tuhan diperjualbelikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tertipu perlu memberi saksi&lt;br /&gt;Sampai sudah masa&lt;br /&gt;Kemanusiaan terhenti pada kursi jatuh&lt;br /&gt;Aku berpikir bukan dengan akalku&lt;br /&gt;Aku bergerak bukan dengan tubuhku&lt;br /&gt;ini waktu seperti serdadu,&lt;br /&gt;yang nampak di aku sebagai musuh,&lt;br /&gt;yang nampak di kawan sebagai lawan,&lt;br /&gt;sedikit ruang untuk berteman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang tak punya kuasa ini&lt;br /&gt;Tak bisa angkat mulut&lt;br /&gt;Mata, hidung, telinga di simpan rapat di kotak-kotak,&lt;br /&gt;Aku asing di badan sendiri.&lt;br /&gt;Raga di sini, jiwa di seberang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Tak tercatat berapa &lt;br /&gt;Bisik-bujuk lama sudah dipupuk&lt;br /&gt;Seperti tak sudah-sudah &lt;br /&gt;mesra partai politik mengelus&lt;br /&gt;di pintu-pintu ia mengetuk&lt;br /&gt;Menggebu dan berpura&lt;br /&gt;Menabur rembulan dan matahari&lt;br /&gt;Menyembunyikan buram kelam malam &lt;br /&gt;Menjaring silau bias cahaya&lt;br /&gt;Lalu hanyut hilang &lt;br /&gt;dihujani langit dilahap bumi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Saluran darahku macet, &lt;br /&gt;tersumbat oleh pamflet-pamflet politik.&lt;br /&gt;dan Papan-papan reklame menghalangi penglihatan orang-orang akan keadaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Hingga lembutnya asap kepentingan-kepentingan sepihak tak mampu tersaring oleh hidung masyarakat yang kian bengkak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang dididik bukan untuk berpendidikan,&lt;br /&gt;melainkan untuk menduduki kedudukan-kedudukan,&lt;br /&gt;di kampung, di kota, di pemerintahan, &lt;br /&gt;dan bahkan di lembaga-lembaga kesenian, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga kemasyarakatan.&lt;br /&gt;Jalur-jalur bebas hambatan di sesaki oleh penumpang-penumpang gelap,&lt;br /&gt;dan kita tinggal menunggu waktu, penggulingan akan terjadi terorganisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang dibimbing bukan untuk mencari jati dirinya sendiri,&lt;br /&gt;melainkan sebagai cara melestarikan pemaksaan dan penindasan,&lt;br /&gt;atas nama kebenaran dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang diajar kebebasan politik, &lt;br /&gt;bukan untuk melatih keluasan dan keleluasaan jiwa, &lt;br /&gt;melainkan menyuburkan kekangan dan kecurigaan-kecurigaan yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang diajak untuk bertanggungjawab,&lt;br /&gt;Tanpa diberikan hak-haknya.&lt;br /&gt;Orang-orang diajak untuk membangun badan,&lt;br /&gt;Bukan diajak untuk membangun jiwa.&lt;br /&gt;Orang-orang diajak untuk rapi dan bersih,&lt;br /&gt;Bukan diajak untuk adil dan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;Hahaha....&lt;br /&gt;Kita belum pernah benar-benar belajar untuk tak tergantung pada apapun dan siapapun. &lt;br /&gt;Kita masih suka tergantung dan sengaja menggantungkan diri,&lt;br /&gt;secara sosial, ekonomi, dan bahkan politik.&lt;br /&gt;Setelah itu, kita beramai-ramai kesana-kemari menjadikannya sebagai berhala-berhala baru.&lt;br /&gt;Kita sudah lupa, bahwa satu-satunya yang berhak kita jadikan gantungan,&lt;br /&gt;adalah Tuhan yang maha pengasih, Tuhan maha penyayang, dan Tuhan yang maha bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menuhankan partai politik,&lt;br /&gt;menuhankan golongan,&lt;br /&gt;menuhankan aliran,&lt;br /&gt;menuhankan apa saja yang tak pantas dipertuhankan.&lt;br /&gt;Dan perlahan-lahan, kita mulai belajar menyekutukan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;Anjing-anjing  menjelma manusia&lt;br /&gt;Tikus-tikus menjelma manusia&lt;br /&gt;Bunglon-bunglon menjelma manusia&lt;br /&gt;Toilet-toilet menjelma pikiran manusia&lt;br /&gt;Sampah-sampah menjelma hati manusia&lt;br /&gt;Batu-batu menjelma kepala manusia&lt;br /&gt;Tembok-tembok menjelma muka manusia&lt;br /&gt;Peluru-peluru menjelma mulut manusia&lt;br /&gt;Pedang-pedang menjelma tangan manusia&lt;br /&gt;Besi-besi menjelma kaki manusia&lt;br /&gt;Manusia-manusia menjelma Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI&lt;br /&gt;Orang-orang ingin menang &lt;br /&gt;Orang-orang ingin menang&lt;br /&gt;Seperti serigala-serigala hutan&lt;br /&gt;Seperti anjing atas kucing &lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela menyakiti&lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela menodai&lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela melukai&lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela membohongi&lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela membunuh&lt;br /&gt;Untuk kemenangan rela memperkosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala cara akan ditempuh&lt;br /&gt;untuk kemenangan dan mengalahkan yang lainnya &lt;br /&gt;Segala alasan akan ditaruh&lt;br /&gt;untuk kemenangan dan mencari musuh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwaku semakin lelah &lt;br /&gt;terhadap kemenangan-kemenangan itu, aku bertanya&lt;br /&gt;Kenapa orang-orang ingin menang?&lt;br /&gt;Apakah itu tujuan kehidupan?&lt;br /&gt;Kenapa orang-orang ingin menang?&lt;br /&gt;Apakah itu arti kehidupan?&lt;br /&gt;Aku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah aku yang kalah &lt;br /&gt;Biarlah aku yang kalah &lt;br /&gt;Asal tak menyakiti, menodai, melukai, membohongi, membunuh, memperkosa&lt;br /&gt;Biarlah aku tak menang&lt;br /&gt;Asal tak menginjak pikiran dan nuraninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin menang&lt;br /&gt;Aku hanya ingin benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII&lt;br /&gt;manusia lahir bukan tanpa tujuan,&lt;br /&gt;dan aku mendapatimu tersenyum berbunga-bunga&lt;br /&gt;Melihat orang tanpa sandang tanpa pangan&lt;br /&gt;Dan kamu berjabat tangan padanya&lt;br /&gt;Memberi sepotong baju bertuliskan namamu juga partaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII&lt;br /&gt;Sebilah pisau mencoba meraba-raba pada keganjilan.&lt;br /&gt;Darah yang tak tidur turut bergumam meringkus tanda. &lt;br /&gt;Ohh... ternyata sirkus kata-kata telah menjadi dogma. &lt;br /&gt;Pembodohan terencana menjadi sindrom merajalela.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guna apa menari-nari dalam khalwat panjang. &lt;br /&gt;Kalau klimaks cinta tak pernah terasa.&lt;br /&gt;Mengapa juga menimba ilmu hingga muntah. &lt;br /&gt;Kalau diri sendiri tak kunjung berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran orang lain sarat paradoks dan kontradiksi. &lt;br /&gt;Bergugus-gugus aksara menjerit lara tanpa makna. &lt;br /&gt;Gemuruh tawa melepas syahdu. &lt;br /&gt;Dan kita masih menjadi orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX&lt;br /&gt;Lempar pandang membuka kisah&lt;br /&gt;lambaian senyum mengawali cerita&lt;br /&gt;dari pekerjaan hingga hobi pribadi&lt;br /&gt;dari kabar keluarga hingga rencana masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlangsunglah...&lt;br /&gt;Bertukar cerita&lt;br /&gt;bertukar berita&lt;br /&gt;bertukar pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;owh...owh...kesempatan mulai terbaca&lt;br /&gt;massa dan dana siap dipertaruhkan&lt;br /&gt;kawan dadakan menyelinapi sudut-sudut negeri&lt;br /&gt;menata moral dekati ibu pertiwi  &lt;br /&gt;mengobral harapan bangsa sejati&lt;br /&gt;mengharap suara memihak diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heyaweyaweyaweo...&lt;br /&gt;Sang tuan sedang beruntung&lt;br /&gt;mendapati mimpi dalam hitungan hari&lt;br /&gt;pesta kemenangan berbulan-bulan&lt;br /&gt;katanya, "ini amanah Tuhan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara dan kawan menuai rizki&lt;br /&gt;Beberapa kursi siap diisi&lt;br /&gt;Ratusan kebijakan siap diwarnai&lt;br /&gt;dan proyek-proyek siap dilaksanakan&lt;br /&gt;......Owhowh...lumayan bisa berbagi&lt;br /&gt;Kebal hukum tak pernah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X&lt;br /&gt;Oh, akal yang tertidur&lt;br /&gt;Bersama silau mimpi engkau mendengkur&lt;br /&gt;Beralas malas permadani sutra&lt;br /&gt;dan dongeng surga menyelimut muka&lt;br /&gt;Oh, akal yang tertidur&lt;br /&gt;Bangunlah...bangunlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hati yang terdampar&lt;br /&gt;Mengikut jejak ombak engkau berlayar&lt;br /&gt;Di kesunyian yang melenakan tempat berhenti&lt;br /&gt;dan kedalaman renungan tak lagi berarti&lt;br /&gt;Oh, wahai hati yang terdampar&lt;br /&gt;Kembalilah...kembalilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menyatukan kita bukan kata&lt;br /&gt;Yang menyatukan kita bukan kursi&lt;br /&gt;Yang menyatukan kita bukan baju&lt;br /&gt;Yang menyatukan kita adalah hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XI&lt;br /&gt;Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang datang... ada yang datang..., minggirlah... minggir... tamu istimewa itu sudah datang... membawa nasibmu ... membawa nasibku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wooo..nge... yoo...lo..qo..ra.ve...zoga...ya...du..ka..  kasih ruang... kasih jalan...oriza....zesodi di sini ada pesta di sini ada pesta&lt;br /&gt;He..koba..do...ca..se...rera..ho...orang besar sedang turun ke bawah ....hoooo calon pembawa perubahan...weooohaye calon pembawa perbaikan….woheyoweo...sore....pa..gi...malam.....&lt;br /&gt;weooohaye...sore....pa..gi...malam.......mengunjungi genangan air mata &lt;br /&gt;Dengar... dengarkanlah.....wooogerahoiplewki...da..se...cao..we..ra..ge....horehore....&lt;br /&gt;Pada lidahnya segala api ..... pada lidahnya segala api .....kilamuuu...flaaaaa....se.......laaaaaalliii....lihat... lihatlah...&lt;br /&gt;Pada matanya segala tanda ... Pada matanya segala tanda ...hore..ba...a....ra.....gammm.....wa..rna......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yehaye...yayehu...ra.reha..rehe..ra...wa...wa...reya..hoo..weo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha... haye... raheso..re..pa..gi..ma..lam...ha... hari ini mari berpesta&lt;br /&gt;Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi....ra.....sa...kan.....&lt;br /&gt;Pesta...re..haye..ho....ra..he..wi..ra.....sa...kan..... &lt;br /&gt;Rasakan... apa saja pesta..ri..a...pesta..ria...pesta riang..pesta... riang.. kan....riangkan siapa.....pa...pa....da.. pesta .... yang....di ada-ada saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XII&lt;br /&gt;Tak semua niat baik akan berjalan baik dan berakhir baik, &lt;br /&gt;tak semua pekerjaan baik diniati baik, berjalan baik dan berakhir baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merah kuning hijau biru putih hitam…&lt;br /&gt;Merah kuning hijau biru putih hitam abu-abu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lih-Pilih-pilih &lt;br /&gt;Pilihan-pilihan dipilah-pilah&lt;br /&gt;Lih-pilih-pilih&lt;br /&gt;yang dipilih dilihat-lihat&lt;br /&gt;Lih-pilih-pilih&lt;br /&gt;yang dilihat dihati-hati&lt;br /&gt;Lih-pilih-pilih&lt;br /&gt;yang dihati dipilih-pilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 12 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-1526078664265523626?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/1526078664265523626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=1526078664265523626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/1526078664265523626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/1526078664265523626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/pemilu_21.html' title='PEMILU'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-6802571769780499522</id><published>2009-03-21T16:57:00.002+02:00</published><updated>2009-03-21T17:03:59.688+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni'/><title type='text'>Di Persimpangan Jalan (Naskah Teater)</title><content type='html'>Begitu panggung dibuka, (A), seorang buta, duduk bersandar tiang, menggesek biola tuanya. Di depannya, ada sejenis gelas, berisi kopi, masih berasap. (A) berhenti menggesek biolanya, memandang ke kiri, mendengarkan sesuatu. Ternyata (B) sedang berisik, merobek-robek kertas, sedang marah. (B) melihat (A) sedang mencari-cari suara yang didengarkannya. (B) berhenti. Tertegun.  (B) berdiri, jalan perlahan menghampiri (A), dipandanginya (A); mata, biola, dan secangkir kopinya. Kaca mata yang semula dipakai (B), dilepas dan dikenakan ke mata (A). (B) berdiri kaku menatap (A).&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(C) baru datang, membawa buntalan sarung yang diikatkan di tongkat. Ia memanggulnya dengan bantuan tongkat tersebut. Sulit berjalan wajar, tubuhnya tertarik bumi. Berdiri di tengah persimpangan, melihat sekitar kiri-kanan. Dihampirinya kasur, dan tubuhnya merebah. Bangun lagi, mengeluarkan jam dinding dari buntalan sarungnya, lalu dipasangnya di tembok dekat kasur. Maka tidurlah ia dengan pulas. (D) datang, ia juga membawa buntalan sarung diikatkan di tongkat, dan mengikuti jejak (C). Ia tidur di samping (C). Lalu (A) berdiri, sambil meraba-raba tubuh (B) yang di berada di depannya, ia memasangkan kembali kaca mata ke (B). (A) mengambil rangka pigura, dan menggantungkannya di tiang persimpangan. Lalu bersimpuh di tengah persimpangan jalan, sambil meneriakkan sajak yang sudah dihapalnya: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PERSIMPANGAN&lt;br /&gt;Sudah cukup kumerasai&lt;br /&gt;Sekumpulan cerita yang kau bilang dera&lt;br /&gt;Bukan rindu rupa aku mengiba&lt;br /&gt;Rinduku rebah kepada makna &lt;br /&gt;Yang menyatu tanah, udara, air, dan api&lt;br /&gt;Hingga lupa,&lt;br /&gt;Melihat tubuh terbaring berkeringatkan asa&lt;br /&gt;Berlarut-larut&lt;br /&gt;Puisi pagiku sembilu &lt;br /&gt;Mencium batu nisan di teras rumah&lt;br /&gt;Denyut perih tak terbilang zaman&lt;br /&gt;menemukan diriku di tengah padang. &lt;br /&gt;Aku di sini&lt;br /&gt;suka mereka yang mengejar gelombang,&lt;br /&gt;menyeret buih timbul-tenggelam&lt;br /&gt;kini, giliran gelisah menjemput &lt;br /&gt;dan aku tersangkut di negeri seberang&lt;br /&gt;Susah berdamai dengan rasa  &lt;br /&gt;dan wajah tambah buram pecahkan kaca&lt;br /&gt;Semakin buta&lt;br /&gt;membingkai persimpangan jalan kita&lt;br /&gt;untuk pertemuan yang meniada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(E) datang ke panggung dengan merangkak, terbalut perban putih, dan membawa kain kanvas putih. Mencoba tetap bertahan, dari sakit yang perih. Digapainya bingkai kosong. Dan kain putih tersebut dipasang di kerangka bingkai. Lalu, (E) memutari (B) dengan merangkak, selama tiga kali. Kemudian (B) perlahan-lahan jatuh, dengan cara berputar-putar, seperti orang mau pingsan. Selanjutnya, (E) meninggalkan panggung. Si (C) terbangun, dibukanya sebuah bingkisan. Dicari-carinya suatu barang, dan ia tak mendapatkannya. Tiba-tiba ia merasa janggal. Lalu ia menoleh ke belakang, dan didapatinya bungkusan yang lain, juga seseorang yang tidur disampingnya. Namun ia terlanjur mendapati sepucuk surat dari buntalan kawannya, yang kemudian dengan diam-diam dilemparnya ke sampah. Lalu, ia melihat-lihat lagi buntalannya sendiri. Dilihatinya foto-foto keluarganya, lalu dirobek dan dibuang di tempat sampah.  Dan tidur lagi.  (F) dan (G) masuk panggung, keduanya memakai topeng, keduanya berjalan saling membelakangi. Jatuh. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan. Mereka membawa cermin berdebu. Dan dipasangnya di salah satu sudut ruangan. Dilakukannya gerakan tari bebas di depan cermin. Si (A) menghampiri sumber suara, (F) dan (G) menghentikan gerakan. Lalu dituntunnya (A) untuk ikut bercermin. Dan ternyata? (F) dan (G) baru sadar bahwa (A) buta. Setelah bercermin, kedua orang tersebut (F dan G) merasa mendapat ilham. (A) masih tetap melakukan peragaan sendiri. Dan (F) dan (G) melakukan gerakan-gerakan semacam kipas-kipas ke (B), bermaksud membangunkan. Ada sekitar 9 kipasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(F) dan (G) kemudian mendekati (C) dan (D), berusaha mengipasi untuk membangunkan. Baru dua kali kipasan, namun tiba-tiba dihentikannya pada awal kipasan ketiga. Mereka berdua berpikir sejenak, sesekali memijit-mijit keningnya. Lalu digapainya jam dinding dekat kasur, dan dipasang lagi pada tempat semula dalam keadaan terbalik, angka nomor 6 di atas, dan angka 12 di bawah. Kemudian, (F) dan (G), dengan cara berlompat-lompat meninggalkan panggung. Pada saat yang sama, Si (B) bangun, dengan ekspresi kedinginan, ia menggigil. Dan, saat sudah berdiri, ia melihat (F) dan (G) sedang mengkipas-kipasi (C) dan (D). Melihat itu, ia semakin merasa dingin. Lalu, dilihatnya kanvas kosong menggantung di tiang kerangka persimpangan jalan. Lalu dibawanya kanvas itu ke meja, dan ia gambari dengan cat minyak. Ia melakukan gerakan-gerakan melukis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si (D) terbangun, lalu dicari-carinya sepucuk surat di dalam buntalannya, dan ia tak menemukan. Pada saat yang sama, (B) yang masih melakukan gerakan-gerakan melukis di atas meja, tak sengaja mendapati sebuah surat di keranjang sampah. (B) penasaran, lalu ia berdiri di atas meja, menghadap penonton, mencoba membacanya dengan gerak bibir tanpa suara. (B) baru sebentar berdiri. Dan seketika itu, (D) mendekati (B), lalu dipandangnya mata (B). Serta merta (B) turun dari meja, dan memberikan kertas itu pada (D) dan meminta membacakannya di atas meja. Dan (D) menyanggupi. Dibacalah apa yang di kertas itu dengan lantang. Saat (D) membaca, Si (A) dan (B) mendekatinya, sambil memegang kaki dan badannya. Isi kertas itu berupa puisi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CATATAN PENGELANA&lt;br /&gt;Kan ku telusuri suatu negeri, di panjang dan lebarnya&lt;br /&gt;Sampai ku raih harapku, atau dalam keterasingan aku mati&lt;br /&gt;Jika diriku terbelok, kuharap engkau mau meluruskan&lt;br /&gt;Jika diriku terselamatkan, niscaya sebentar lagi aku kembali&lt;br /&gt;Rindu memuncak untuk pergi ke Mesir&lt;br /&gt;Paling tidak kulintasi luasnya padang pasir&lt;br /&gt;Demi Tuhan, tak tahu apa keberuntungan bisa kudapat&lt;br /&gt;Atau di liang kuburan diriku tersumbat&lt;br /&gt;Muncullah aku, lalu tak ku jumpai seorang kawan &lt;br /&gt;Dalam prahara atau gembira aku berteman&lt;br /&gt;Kubuang keraknya karena banyak kejelekan &lt;br /&gt;Kubuang pucuknya karena sedikit kebaikan &lt;br /&gt;Berkelanalah aku dengan segenap jiwa &lt;br /&gt;Bukan perpisahan benar menjadi api &lt;br /&gt;walau hidup harus menyendiri&lt;br /&gt;Jika kutemani kumpulan orang-orang dalam kelana&lt;br /&gt;Jadilah aku seperti saudara tercinta&lt;br /&gt;Dengan aib sendiri,aku kelana punya mawas dan indera&lt;br /&gt;Dengan aib kawan,sepasang mataku aku butakan&lt;br /&gt;Tak ku ambil peduli, di setiap kelam orang-orang yang kulalui&lt;br /&gt;Tapi kubilang: “Mari tetap pada jalan ini!”&lt;br /&gt;Jika aku ambil peduli, mereka kan menyingkiri&lt;br /&gt;Jadilah aku di buana ini tanpa kawan menemani&lt;br /&gt;Ku lihat genangan air merusak kejernihan&lt;br /&gt;Jika mengalir maka indahlah, jika tersumbat maka keruhlah&lt;br /&gt;LihatSinga yang tak meninggalkan sarang, secuil mangsa pun tiada&lt;br /&gt;Dan kalau panah tak tinggalkan busur, bagaimana sasaran tertawan&lt;br /&gt;Janganlah bilang, mentari hanya berhenti di poros&lt;br /&gt;Bosanlah bosan manusia memandang&lt;br /&gt;Andai purnama tak terbenam ke peraduan&lt;br /&gt;Tak terlihat di mata sekuntum perhatian  &lt;br /&gt;Tak ada tempat istirahat bagi orang berakal-berbudi&lt;br /&gt;Maka berkelanalah aku dan meninggalkan negeri&lt;br /&gt;Berkelanalah aku…&lt;br /&gt;Berkelanalah aku… &lt;br /&gt;Berkelanalah aku hingga sampai juga diSini&lt;br /&gt;Roda kaki biar berpacu&lt;br /&gt;Berpacu hingga melesat seperti peluru&lt;br /&gt;Dan baru akan pulang-kembali&lt;br /&gt;Saat aku menjadi berarti&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Si (D) lalu turun dari meja. Dilipatlah kertas itu, dan diberikan ke (B). (D) mengambil buntalannya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan panggung dengan berjalan mengangkat tumit. Sedang (A) yang semula termangu, lalu mengambil lukisan di samping meja, untuk kemudian dipasangnya di tiang persimpangan jalan. Lalu, (A) meraba-raba lukisan, menampakkan bahwa ia yang bermata buta sedang membaca lukisan. Lantas ia duduk menyandar tiang persimpangan jalan, seperti awal mula ia masuk panggung, sambil beberap kali menggapai-gapai kopinya, untuk diseruputnya dengan tenang. Digeseknya kembali biola tuanya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, setelah (D) habis membaca puisi, (B) membersihkan kotoran-kotoran sampah yang berserakan. Dijumputinya kulit kacang untuk kemudian dimasukkan ke keranjang sampah. Dikumpulkanlah buku-buku yang bertebaran di sudut-sudut ruang. Dikumpulkannya lembaran-lembaran kertas yang berceceran, dan disusun kembali, lalu ditaruhnya dengan rapi di atas meja. Berhenti sejenak, seperti sedang berpikir. Ia mendekati keranjang sampah, lalu dimasukkannya lengan tangan bagian kanan ke dalam keranjang sampah, ia sedang mengambil sesuatu. Ya, ternyata dua buku tua dan sebuah koran  diangkatnya. Ia membersihkannya dengan tangan dan mengeluarkan semacam udara dari dalam mulut untuk diarahkan pada buku dan koran tersebut. (B) duduk di depan meja, dan sibuk menulis-membaca. Ruangan terlihat rapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biola (A) berhenti berbunyi. Dan (C) bangun. Ia berdiri, lalu berjalan mengelilingi semua sudut ruangan. Semua barang, ditatapnya dengan penuh keheranan; orang yang tidur di sampingnya sudah tak ada, ruangan jadi rapi, ada lukisan tergantung, ada cermin terpasang. Dan ia melihat (A) sedang sibuk dengan biolanya, (B) sedang membaca-menulis. Dan ia sendiri jadi bingung, tentang apa yang harus ia kerjakan. Berhenti sejenak, saat ia berada di antara meja dan tiang persimpangan. Ditundukkan kepala, sambil menarik nafas dengan perlahan, ia sedang merenungkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia angkat kepala dan membuka mata lebar-lebar. Ia tidak berpindah tempat, namun ia memutar-mutar badan, dan dilemparkannya tatapan kedua mata dengan tajam. Sambil menyapukan tatapan mata pada setiap sudut ruangan, ia berharap mendapat jawaban. Tak ada yang janggal, semua baik-baik saja. Ia pun tak mendapat apa-apa. Tapi entah, sorot mata enggan berkedip. Diawasi lagi setiap sisi dari ruangan. Kali ini lebih tajam. Seperti ada yang terlewati. Benar. Kini, sorot mata jatuh pada sebuah benda, cermin di ruangan itu ternyata penuh debu. Dihampirinya cermin tersebut, dan diusap dengan mukanya. Setelah selesai mengusap, ia sendiri bercermin, dan ternyata diketahuinya bahwa ada kotoran di muka. Ia membersihkan dengan telapak tangan kanannya. Baru pada usapan pertama, ia lantas menghentikannya. Lalu telapak tangan ditatapnya dengan mata, dan ia lihat juga lewat cermin, ternyata telapak tangannya menjadi kotor. Ia pun menuju tempat di mana ia menaruh buntalan miliknya. Ia mengambil sepotong kain, lalu ia kembali ke depan cermin, dan membersihkan muka dan tangannya. Setelah itu, dilihatnya kain yang berdebu, kotor. Kain tersebut dibuangnya di sampah. (C) berdiri di dekat keranjang sampah, dan tiba-tiba ia mendapati sebuah jam dinding dipasang terbalik. Lalu ia membenarkan kembali. (C) bergegas meninggalkan ruangan panggung, sambil bejalan santai, merunduk ke depan, dengan tongkat di atas bahunya yang membawa sebuh buntalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas panggung tinggal dua orang, (A) dan (B). (B) menghentikan pekerjaan membaca dan menulisnya, ia menghampiri (A) di persimpangan jalan. Mereka berdua berdilog. Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih. Suara Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar alunan musik biola, gitar, harmonika, mengiring-iringi bersahut-sahutan. Dialog terasa akrab. Warna cahaya berubah pelan pelan. Musik sendu mengalun. (B) mengawali pertanyaan. (B): Sebetulnya siapa dirimu? (A): Sebegitu pentingkah siapa diriku, hingga kau harus mengenalnya? (B): Bukan begitu, aku ingin bertanya, di manakah kita saat ini? (A): Ooo, ya, di mana, di mana, di mana kita saat ini? (B): Mengapa kita di sini? (A): Ya, mengapa kita di sini? (B): Untuk apa aku di sini, untuk apa kita di sini? (A): Oooo, ya, untuk apa, untuk apa kita di sini? (B): Di mana kita? Untuk apa kita di sini? (A): Ya, di mana kita? Untuk apa kita di sini? (B): Ya sudah, kalau memang kita tidak tahu di mana kita saat ini, mengapa sampai di sini, dan untuk apa di sini, mari kita pergi dari sini, biarpun tak tahu harus ke mana.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah naskah teater garapan Duntara Badai Saka yang berjudul Persimpangan Kairo. Namun sayang, banyak adegan-adegan di luar teks. Biarpun tak keluar dari tema besar yang diangkat, namun cukup menjadi masalah, paling tidak bagi penonton, yang untuk memahaminya perlu konsentrasi lebih serius lagi. Juga karena lampu yang terbakar, cukup mengganggu jalannya pementasan. Tapi tak dipungkiri, bahwa teater ini adalah cara mereka menyampaikan pesan, seperti kita menyampaikan pesan kepada orang lain, dengan caranya yang lain pula.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-6802571769780499522?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/6802571769780499522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=6802571769780499522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/6802571769780499522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/6802571769780499522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/di-persimpangan-jalan-naskah-teater_5778.html' title='Di Persimpangan Jalan (Naskah Teater)'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-2707084735748122874</id><published>2009-03-21T13:00:00.000+02:00</published><updated>2009-03-21T13:13:43.573+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran'/><title type='text'>Partai Islam Bukan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Islam bukan partai politik. Perjalanan sejarah cukup menjadi bukti, bahwa politik tak menjamin orang yang memiliki pengetahuan agama dapat selamat dari kesalahan, bahkan sahabat Nabi sekalipun. Terlalu dini untuk menyatakan bahwa Islam itu melingkupi segala hal, termasuk politik, suatu cara menghibur diri yang dianggap paling tepat untuk membela agama.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kebenaran itu datangnya mendahului manusia. Kebenaran terlalu sering berada pada posisi yang beragam: tersembunyi, disembunyikan, tertutupi, ditutupi. Dan sebagian manusia lebih sering mencari pembenaran daripada kebenaran. Tak ada yang lebih penting dari apa yang diutuskan Tuhan terhadap Nabi Muhammad SAW, kecuali mengajak manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu satu, juga memperbaiki moral-etika. Bukan untuk sebagian kelompok, melainkan sebagai rahmatan lil alamin. “Kamu sekalian tentu lebih tahu tentang urusan duniawimu,” demikianlah kata Nabi terhadap kaumnya.  Ia memberikan jarak, antara urusan duniawi dan ukhrowi, biarpun keduanya memiliki hubungan. Seperti politik, sesuatu yang lebih dekat dengan urusan duniawi: kekuasaan, jabatan, monopoli, kepentingan pribadi. Lalu sebagian orang berteriak lantang, bahwa politik adalah mutlak urusan agama, sambil lupa diri atau mungkin melupakan diri, bahwa sejatinya manusia adalah tempat luput dan lupa. Sedang mereka tak hirau pada sebagian pendapat lain, bahwa perbuatan tersebut sama halnya mempertaruhkan agama, mirip judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ditemukan terma siyasah (politik) dalam al-Qur’an maupun Hadits. Namun ada pelajaran, Nabi Muhammad SAW menghindar dari arus besar politik. Waktu itu, saat beliau ditawari sebuah kerajaan dan menjadi pimpinan Quraisy, ia menolak, lalu mengatakan dengan tegas: itu bukan bagian dari risalah saya. Bukan berarti tak berpolitik, rasanya perlu sejenak memperhitungkan adigium lama, manusia adalah makhluk politik. Dan Nabi pun juga manusia, biarpun dalam kategori manusia pilihan. Menghadapi berbagai perbedaan, ujian, cobaan, tentu beliau harus menggunakan strategi. Strategi sebagai langkah politik. Strategi adalah bagian dari cara mencapai tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri, namun sebagian manusia sering terjebak, bahkan menjebakkan diri. Dalam hal mengambil jalan politik, Nabi tak bertangan kosong. Ia punya bekal yang di kemudian hari menjadi teladan: intelektual tinggi dan baiknya kualitas moral. Seperti yang telah diprakarsai Nabi: Bai’at al-Aqabah, hijrah, piagam Madinah, adalah bukti atas kemampuan mengatur strategi. Maka, bukan hal mudah membangun masyarakat beradab dari pemimpin yang tanpa bekal, biarpun seluruh rakyatnya mendukung sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Madinah telah menjadi semacam simbol, bahwa perbedaan, kebebasan, toleransi, persamaan penduduk, dan keadilan, perlu dibingkai dalam persatuan masyarakat, demi kepentingan bersama. Prinsip hubungan antara Islam dan selainnya dengan dasar bersaudara yang baik, saling membantu, membela yang teraniaya, saling menasehati juga menghormati kebebasan beragama, memberikan citra bahwa Islam adalah agama terbuka. Piagam Madinah adalah undang-undang dasar yang dibuat untuk mempersatukan pola pandang kehidupan bermasyarakat. Sedang yang belum tersuarakan dalam piagam, akan dimusyawarahkan secara kondisional. Waktu itu, Masjid Nabawi adalah tempat musyawarah mengenai keputusan-keputusan negara; perjanjian-perjanjian damai, perang dan sebagainya. Musyawarah telah menunjukkan kedekatan pemerintah dengan rakyat, bukti bahwa dalam urusan negara, tak ada penguasa tunggal yang punya suara mutlak, bahkan Nabi sekalipun. Karena yang dimusyawarahkan hanyalah permasalahan duniawi. Sebaliknya dalam urusan agama, Nabi lebih berwenang. Namun, Nabi adalah penyampai wahyu ilahi, bukan pemilik wahyu itu sendiri. Kesadarannya sebagai utusan, membuatnya berhasrat untuk menjadikan tatanan sosial Arab bercorak theocentric society, sebuah tatanan sosial yang menjadikan Tuhan sebagai poros kehidupan. Ini menegaskan bahwa kebenaran ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia. Demikianlah Nabi melaksanakan tugasnya sesuai apa yang diperintahkan kepadanya, tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada negara Islam zaman Nabi, tak juga sistem politik. Yang ada adalah negara madani, negara persatuan yang didasarkan atas perbedaan-perbedaan: agama, suku, ras, dan adat istiadat. Nabi, dengan segala kemampuan dan kelebihannya, dianggap paling tepat menjadi pemimpin. Dan suara masyarakat bersetuju untuk hal itu. Sikapnya yang adil dan bijaksana telah membius hati para penduduk. Nabi sebagai satu-satunya utusan Tuhan, adalah teladan bagi seorang muslim. Tentu tak mudah untuk bisa seperti Nabi, mungkin mustahil. Bagi Nabi, ketika jumlah kaum muslim semakin bertambah, demi mempermudah pengelolaan dan pengaturan, maka perlu dibentuk tata cara dan aturan-aturan. Ada pengelolaan ekonomi, meliputi zakat, shadaqoh, upeti (jizyah), harta rampasan perang (ghanimah). Ada pengelolaan hukum, seperti lembaga peradilan (qodho’). Ada juga pengelolaan militer, seperti pasukan perang. Pengelolaan dan pengaturan itu demi memudahkan masyarakat muslim mengatur kehidupannya; menghidupi diri, memakmurkan diri, mensejahterakan diri, mengamankan diri, dan mendekatkan diri dengan Tuhannya. Yang demikian itu dianggap perlu oleh Nabi, suatu cara yang dibutuhkan pada masa awal penyebaran Islam. Lalu, oleh orang-orang, segala yang dilakukan Nabi tersebut, dibaca dan dianggap sebagai tindakan politik. Bukan sekedar aturan, melainkan sistem. Lebih berani, sebagian orang menyebutnya “sistem politik”, bahkan “sistem politik Islam”. Membaca nuansa politik di zaman Nabi, perlu kehati-hatian yang cukup, agar terhindar dari ketergesa-gesaan menilai. Mendasarkan kesimpulan dari gambaran dengan tingkat kejelasan yang tinggi, begitulah seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi wafat, dan ia tak mewasiatkan apa-apa terkait politik dan pemerintahan. Posisi tertinggi kepemimpinan juga dibiarkan kosong tanpa menunjuk pengganti. Ada beberapa kemungkinan, diantaranya; pertama, Nabi memberikan ruang pada penerusnya untuk bebas menentukan pilihan, antara diteruskan atau tidaknya kursi kepemimpinan. Kedua, Nabi memberikan ruang sebebas-bebasnya dalam hal menentukan pengganti dengan cara-cara yang dianggap paling baik oleh generasi penerus. Ketiga, jabatan kepemimpinan tak perlu diteruskan. Dan tentu masih banyak kemungkinan lain. Tapi paling tidak, ada prinsip-prinsip umum yang bisa diambil; pertama, tak ada perintah dan larangan dari Nabi dalam hal politik dan pemerintahan. Kedua, tak ada ketentuan yang menjelaskan hal-ihwal mekanisme pemilihan pemimpin. Dengan demikian, imamah bukanlah rukun iman, melainkan wilayah ijtihad. Begitulah cara Nabi memegang prinsip, bahwa ada risalah kerasulan yang lebih penting dan utama: al-Quran dan Hadist, satu-satunya wasiat, pegangan hidup bagi manusia yang tersebar di zaman dan tempat berbeda.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan peradilan, ekonomi, dan keamanan perlu dipertahankan, bahkan dikembangkan. Ajaran Islam dari Nabi perlu disampaikan, bahkan disebar-luaskan. Untuk itulah kursi kepemimpinan merasa perlu dilanjutkan. Saat Nabi sebagai pemegang otoritas wahyu sudah tiada, inilah masa transisi dari masa wahyu ke masa tafsir, suatu kejadian di masa Khulafa' ar-Rasyidin. Hal ini nampak sekali pada perbedaan tata cara pengangkatan pemimpin, antara satu khalifah ke khalifah lain. Abu Bakar ditentukan oleh komponen Muhajirin dan Ansor, Umar dengan surat wasiat, Utsman dipilih oleh Ahlu al-halli wa al-aqdi dari komponen Muhajirin-Quraisy, dan Ali dipilih oleh rakyat umum. Pun demikian masa-masa setelahnya. Meletusnya kejadian fitnah kubro, terjadinya perang Jamal, perang Shiffin, juga Tahkim (arbitrasi) atau perundingan antara blok Ali dan Muawiyah yang berujung pada munculnya sekte-sekte Islam, adalah bukti bahwa perbedaan penafsiran, perbedaan pandangan dalam hal politik kekuasaan, menjadi salah satu penyebab terpecahnya persatuan. Kalau sudah demikian, adakah hal yang lebih baik dari upaya mengambil pelajaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Tahkim, di barisan Ali ada Abu Musa al-Asy’ari dan di blok Muawiyah ada 'Amr bin Ash. Abu Musa al-Asy'ari merasa dicurangi, ia berbicara dulu dengan menyatakan keputusannya untuk menurunkan Ali dan juga Muawiyah dari posisi kepemimpinan, sedang saat 'Amr bin Ash berbicara, ia malah menjelaskan bahwa Muawiyah adalah penerus Utsman. Paska Tahkim, umat Islam terbagi tiga: pertama, blok Muawiyah. Kedua, blok Ali yang kemudian melahirkan Syi'ah. Ketiga, Khawarij, pihak yang keluar dari barisan Ali disebabkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Ali yang menerima Tahkim. Perpecahan semakin menjadi. Di tahun 41 H. muncullah ‘am jama’ah, sebuah masa persatuan yang mencoba mencari titik temu atas beberapa kecenderungan yang menganggap persatuan umat Islam lebih penting dari segalanya. Suatu tahapan sejarah yang lahir setelah Hasan, seorang yang secara garis keturunan seharusnya menjadi pengganti Ali, ternyata berdamai dengan Muawiyah. Pada saat inilah harapan persatuan Islam mendapat perhatian besar, umat Islam bersatu dalam satu khalifah, Muawiyah. Namun seperti biasa terjadi dalam politik, rencana dan keadaan bisa berubah sewaktu-waktu. Pada akhirnya, bukan lahir kesepahaman, melainkan memuncaknya perbedaan epistemologi yang saling bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muawiyah berkuasa penuh. Dengan kekuasaannya, ia mulai berani merubah banyak hal. Pada Am Jamaah, di masjid Nabawi Madinah, Muawiyah berpidato, ia akan melakukan pemutusan model politik Khulafa' Rosyidin menjadi politik monarki. Pernyataannya itu menjadi semacam kontrak politik. Ia menegaskan bahwa Muawiyah tidak mengikuti jejak Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Model politik yang dipakai adalah monarki yang mendasarkan pada asas maslahat negara, dengan tanpa mengangkat pedang. Namun pada perkembangannya, yang maslahat bagi negara juga harus maslahat bagi keluarga istana, klan Umayah. Demi memperkuat legitimasi kepemimpinan, Muawiyah mendeklarasikan diri berideologi Jabariyah, dengan konsep utama tentang qhada' dan qadar. Menurutnya, kekusaan Muawiyah adalah pemberian Allah. Pada fase ini, Muawiyah mulai menarik-narik politik ke wilayah ideologi, sebuah potret politik dengan bungkus agama. Maka kemudian, perang pun meluas ke wilayah pemikiran. Khawarij sebagai oposisi Muawiyah dan Syi'ah, tak terima. Ia melemparkan konsep tandingan, bahwa iman tak terpisah dengan amal. Baginya, siapapun yang meninggalkan sholat, puasa dan berbuat dosa besar maka keluar dari Islam, bahkan yang berbeda dengan mereka. Oleh karena itu, 'Aisyah, Talhah, Zubair, dan para pengikut perang jamal semuanya kafir, Abu Musa al-Asy'ari dan Amr bin Ash pun kafir, juga Muawiyah. Khawarij juga berpandangan, bahwa jika pemimpin berbuat zalim, maka pengikut wajib keluar dari barisan imam. Maka, kerelaan Ali terhadap Tahkim adalah salah. Keluarnya dua belas ribu orang dari barisan Ali, yang kemudian bernama Khawarij, adalah benar. Bagi Syi’ah, pandangan Khawarij tersebut teramat menyalahkan Ali, sebuah penghinaan kepada khalifah umat Islam. Demikianlah peperangan demi peperangan antara kelompok-kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang sudara terus terjadi. Syiah, Muawiyah, Khawarij, saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri. Lalu muncullah Murji’ah, kelompok yang berusaha menghindari perpecahan umat Islam. Baginya, iman tak hilang karena maksiat, dan pendosa besar ditangguhkan hukumannya hingga hari kiamat, di bawah keputusan Tuhan. Muawiyah yang berkuasa, Khawarij yang keras dan Syi'ah yang fanatik, ketiganya sama beriman. Sebuah mazhab yang toleran, kelompok non-blok, dipimpin oleh Abdullah bin Umar dan Sa'ad bin Abi Waqqash, itulah Murji’ah. Bersamaan sikap menghindari perpecahan, lahir pula gerakan sufi. Kaum sufi yang bebas dan aktif. Bebas tak memihak dan menjauhi aktifitas politik, namun aktif menolak pertumpahan darah. Mereka menawarkan konsep taubat, dan menyatakan rendahnya dunia serta tingginya derajat akhirat. Kemudian lahir antitesa baru, kelompok Mu'tazilah. Hasil perdebatan Wasil bin Atho', pendiri Mu'tazilah dan gurunya Hasan al-Bashri tentang pelaku dosa besar yang dihukumi kafir oleh Khawarij, membuat Wasil tak puas. Pandangan sang guru bahwa posisi pendosa besar dipasrahkan pada Allah, bertentangan dengan keyakinan Wasil. Baginya, pendosa besar tetap mukmin secara iman tapi fasiq secara amal, posisi mereka ada di antara dua tempat (al-manzilat baina al-manzilatain). Dan tak ada cara lain untuk selamat di akhirat, kecuali bertaubat. Inilah sikap politik Mu’tazilah melawan Muawiyah secara halus. Dengan cepat, Mu’tazilah mulai berbicara tentang imamah, hingga menyeretkan diri ke wilayah politik. Aliran yang mengedepankan akal ini, melakukan ta'wil besar-besaran terhadap teks al-Qur'an dan al-Hadits. Hal ini merangsang lahirnya Ahlussunnah, mazhab yang berusaha menggunakan nash dan akal secara seimbang. Mulanya, akademisi mazhab ini menjauh dari aktifitas politik. Namun akhirnya juga menanggapi situasi politik, dengan mencari jalan tengah, bersikap netral, menerima umat Islam tanpa mempermasalahkan asal-usulnya. Mazhab yang dipelopori al-Asy'ari dan al-Maturidi ini, belajar menghargai perbedaan pendapat, tak seperti Khawarij yang mudah menghakimi, tak juga Syi’ah yang melebih-lebihkan Ali dibanding Mu’awiyyah, tak juga Mu’awiyyah yang merendahkan Ali. Bagi Ahlussunnah, Ali dan Mu’awiyyah adalah sama-sama sahabat Nabi, yang keduanya mempunyai posisi mulia. Masuk surga atau tidaknya seseorang, adalah rahmat Tuhan, namun manusia wajib berusaha, bagi pendosa besar sekalipun. Demikianlah Ahlussunnah berpendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut ke zaman Abbasiyah, corak politik sedikit berbeda. Kaum fuqaha’ sebagai tokoh agama, tak ingin perpecahan Islam terjadi untuk ke sekian kali, maka sikap lunak terhadap penguasa menjadi pilihan. Bagi fuqoha’, kedekatannya dengan penguasa dimaksudkan mempermudah menerapkan syari'at, tanpa mempermasalahkan pemegang kursi kepemimpinan seperti catatan sejarah sebelumnya. Dan penguasa Abbasiyah pun merasa diuntungkan, dengan adanya fuqoha’, status politik penguasa Abbasiyah menguat. Islam atau tidaknya negara, dilihat dari apakah negara melaksanakan hukum Islam atau tidak, tanpa menyoal justifikasi kepemimpinan, demikian pendapat fuqoha’ masa itu. Karena terfokus pada hukum, maka posisi fikih menjadi tema penting yang menentukan banyak hal. Pada saat inilah pertumbuhan fikih tak berjalan alami, ia dirancang dengan kecondongan untuk justifikasi pemimpin yang sedang berkuasa. Hingga pada pendapat, bahwa keinginan raja adalah keinginan Tuhan. Taat kepada imam adalah taat kepada Tuhan, Abbasiyah adalah keinginan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sejarah mencatat, dan manusia seharusnya memahami apa yang terbaik yang harus diteladani, juga yang buruk yang harus ditinggalkan. Politik, aqidah, syariah, terlampau sering dicampur-adukkan, ditarik-tarik, dibungkus-bungkus, dihias-hias. Jelas, ada urusan duniawi yang menuntut manusia melakukan ijtihad, menyesuaikan tempat, waktu, dan segala sesuatu yang berubah. Politik adalah urusan duniawi. Dan fikih, bukanlah syariah. Syariah adalah ketentuan-ketentuan Tuhan, sedangkan fikih adalah pandangan-pandangan manusia. Seperti Nabi, yang menyampaikan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dengan beragam cara, sesuai ruang dan waktu, bukan dengan paksa. Teringat kata Ali: “al-Qur’an tertulis, tapi tak dapat berbicara. Manusialah yang berbicara atas namanya. Padahal al-Qur’an mempunyai banyak wajah”. Dan karena kita manusia, yang setiap pikiran, hati, dan jiwa tak diciptakan sama, maka akan selalu ada perbedaan. Maka, politik adalah ijtihad, bukan agama. Lalu, mengapa sebagian orang berteriak-teriak lantang, mendeklarasikan diri sebagai partai Islam? Jadi jelas sudah, bahwa partai Islam, bukan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-2707084735748122874?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/2707084735748122874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=2707084735748122874' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/2707084735748122874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/2707084735748122874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/partai-islam-bukan-islam_21.html' title='Partai Islam Bukan Islam'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-109190262700941044</id><published>2009-03-20T11:46:00.009+02:00</published><updated>2009-03-21T17:20:47.286+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran'/><title type='text'>Re-interpretasi Islam Kaffah</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai muslim, sebuah keniscayaan untuk bisa menjalankan Islam secara kaffah (keseluruhan). Namun jauh sebelum mencapainya, tentu ada banyak hal yang harus dipelajari dan dipikirkan.  Apakah benar bahwa untuk menjadi Islam kaffah harus mendirikan sebuah negara Islam"? Apakah harus dengan mendirikan khilafah Islamiyah (imperium Islam) dengan satu khalifah (pemimpin) yang ditaati kaum muslim di manapun berada? Apakah harus dengan berpartisipasi politik kepada partai yang berlabel Islam? Pertanyaan tersebut selalu membuat resah hati penulis. Oleh karena itulah penulis mencoba mempelajari dan mencari jawabannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lika-liku kehidupan menggoda kepada kita untuk tidak bersikap sabar dan berat memberi maaf. Misalnya saja arus globalisasi dan modernisasi. Arus bias Barat tersebut telah membuat orang-orang di negara berkembang seperti Indonesia semakin terpinggirkan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kemampuan masyarakat untuk bisa berasimilasi dengan baik terhadap arus terebut. Maka hasilnya adalah semakin banyaknya ketimpangan, baik sosial, politik, maupun ekonomi. Di satu sisi negara-negara asing sangat gencar menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang yang selanjutnya disebarkan ke berbagai negeri, sedangkan orang-orang di negeri ini masih aktif berbudaya konsumerisme atas produk asing. Bahkan untuk bisa mendapatkannya rela berkorban menjual budaya dan tradisi sendiri. Ditambah lagi dengan para penguasa di negeri ini yang belum juga mengakui atas kesalahan-kesalahan dalam ketidakberhasilan mewujudkan amanah rakyatnya. Akhirnya yang terjadi adalah kesenjangan dan ketimpangan antara pemerintah, rakyat dan negeri asing. Hal ini mengakibatkan ketidakpercayaan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian sikap tidak percaya dan saling curiga menjalar ke semua kelompok kehidupan, baik suku, adat, ras, agama ataupun golongan. Disinilah semua kelompok-kelompok tersebut merasa terlahir kembali. Terlahir untuk menunjukkan bahwa dari kelompoknyalah akan terwujud kehidupan yang diinginkan orang banyak. Di sini agama menjadi salah satu faktor terpenting sebagai landasan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, termasuk Islam dan pemeluk-pemeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kelompok yang menyuarakan Islam kaffah dengan berpijak ayat sebagai berikut; "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah: 208). Ini jelas berbeda dari sebagian kaum muslimin yang mengartikan kata fi al-silmi dalam kalimat "udkhulu fi al-silmi kaffah" sebagai sifat kedamaian, bukan sebagai Islam. Namun berbeda di sini bukanlah sebuah masalah. Yang menjadi pokok permasalahannya adalah, mengapa di satu sisi mereka menyerukan Islam yang sempurna, sedang di sisi lain mereka juga membangga-banggakan sekelompok manusia dari kelompok-kelompok yang lain? Perbuatan tersebut secara tidak langsung sama halnya merendahkan kelompok lain tersebut. Hal itu dengan sendirinya sangat bertentangan dengan firman Tuhan; "Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)" (QS. al-Mukminun: 53), yang padahal sudah dijelaskan bahwa perbuatan tersebut juga tergolong dalam perbuatan yang tidak disukai Tuhan. Hal itu digambarkan dengan firman selanjutnya; "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu" (QS. al-Mukminun: 54).  Maka jelaslah bahwa Muhammad SAW sebagai rasul pembawa amanah Tuhan bukanlah untuk sebagian umat atau kelompok tertentu. Sebagaimana firman Tuhan; "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. al-Anbiya': 107). Ayat yang sering diucapkan namun sulit merealisasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga mereka yang berjuang kukuh untuk mendirikan negara Islam dengan berlandaskan firman; "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridlai Islam itu jadi agama bagimu" (QS. Al-Maaidah: 3). Mereka beranggapan bahwa Islam adalah sistem hidup paling sempurna yang hanya bisa diwujudkan dengan cara mendirikan  negara agama atau sistem yang “agamis”. Anggapan tersebut mengandaikan bahwa Islam hanya akan sempurna dengan cara mendirikan agama. Pengandaian tersebut justru akan mengingkari sifat agama Islam bahwa; "Islam adalah agama yang sesuai di segala waktu dan ruang". Karena bagaimanapun, Islam sempurna bukan karena kedudukannya sebagai negara, juga bukan karena ia meninggalkan negara. Akan tetapi, Islam sempurna karena keluasannya dan kemampuannya untuk bisa melingkupi seluruh alam. Alam di sini berarti sesuatu yang selain Tuhan, dan selain Tuhan berarti makhluk. Makhluk berarti semua ciptaan Tuhan, termasuk di dalamnya adalah segala sistem ruang dan waktu. Keluasan Islam tersebut dengan demikian membuktikan kebesaran agama Tuhan. Dan barang siapa yang mengartikan Islam dengan sempit, maka dengan sendirinya menganggap kemampuan Tuhan sangat sempit. Maka dari itu, untuk membaca Islam yang sangat luas, sangat diperlukan cara pandang yang luas. Dan seandainya hal tersebut belum dilakukan, bisa dipastikan bahwa hasilnya adalah suatu pandangan yang jauh dari kesempurnaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga beberapa partai politik yang sekan-akan menjamin pengikutnya akan mendapat surga kelak di akhirat. Partai tersebut berasaskan agama, oleh karenanya mereka memberi julukan dengan sebutan partai agama. Entah mengapa tiba-tiba lahir sebuah asumsi umum dari partai-partai tersebut bahwa, seseorang akan mudah menjadi muslim kaffah bila masuk dan berpartisipasi pada acara-acara partai politiknya. Apakah hal tersebut tidak bertentangan dengan firman Tuhan; "Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)" (QS. al-Mukminun: 53)? Dalam hal ini penulis teringat pada perkataan Ibnu Aqil; “Politik adalah semua tindakan yang mendorong kepada kebanyakan manusia untuk lebih mendekatkan kepada kebaikan dan menjauhkan dari kerusakan, tidak merendahkan Rasul Muhammad SAW, dan tidak menghina wahyu-wahyu Tuhan yang telah diturunkan kepadanya. Tiada politik yang membuat orang berpengetahuan syariat agama akan terbebas dari kesalahan, pun demikian yang dialami oleh para sahabat Nabi SAW.” Tentunya Ibnu Aqil tidak bermaksud menghina para sahabat, hal itu dimaksudkan bahwa manusia mempunyai sifat yang selalu melekat, yaitu kekurangan. Sahabat sebagai orang dekat Nabi Muhammad SAW saja tak luput dari salah, apalagi manusia biasa yang hidup jauh dari zaman Nabi. Maka jelaslah bahwa sebuah partai politik tidak dapat menjamin ukuran kesempurnaan Islamnya seseorang. Hal terpenting dalam berpolitik adalah, bertujuan untuk menciptakan sebuah kebaikan dan menjauhi segala kerusakan, serta menghormati segala sesuatu yang berbeda, dan tidak merendahkan atau menghina kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penganut Islam, kita percaya bahwa Islam adalah agama sempurna. Akan tetapi kita tidak boleh mengingkari bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna, ia selalu melekat dengan sifat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, hubungan antara sempurnanya Islam  dan ketidaksempurnaan sebagai manusia harus dipertemukan dengan cara berdialog. Tentunya berdialog dengan segala hal yang berhubungan dengan Islam. Yang berhubungan dengan Islam apa? Karena kita menyepakati kalau Islam itu luas, maka yang berhubungan dengan Islam ya luas. Dan hal penting dalam berdialog adalah sikap menghargai pendapat lain. Akhirnya jelaslah bahwa, untuk mewujudkan tujuan Islam tidak harus dengan mendirikan negara, juga tidak dengan meninggalkan negara. Akan tetapi dengan menanamkan nilai-nilai Islam yang akan dihasilkan melalui dialog. Baik dialog antar agama, dialog antar budaya, maupun dialog antar sesuatu yang berbeda dengan Islam. Memang benar, hasil dari dialog tidak mendapatkan hasil yang benar-benar “murni” seperti yang diharapkan Islam, akan tetapi jangan diartikan bahwa Islam yang demikian tidak benar, misalnya saja Islam Jawa yang dikembangkan oleh para Wali Songo. Kita bisa berpedoman pada salah satu kaidah fikih; "Apa yang tidak tercapai seluruhnya, jangan ditinggal semuanya." Di sini Islam juga harus tetap bijak, bahwa dalam berdialog tidak boleh mengedepankan egoisme keislaman, namun juga harus tegas, dengan tidak boleh meninggalkan identitas keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal-awal abad ke-21, banyak terjadi aksi kekerasan terhadap sejumlah tempat-tempat ibadah. Ada penutupan paksa gereja, ada aksi pemboman gereja, ada bom Bali. Mereka bertopang pada firman Tuhan; "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka" (Penggalan QS. al-Baqarah: 191). Mereka beranggapan bahwa seorang yang kafir (non-muslim) halal darahnya, dan wajib dibunuh di manapun berada. Hal tersebut jelas bertentangan dengan firman Tuhan; "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat" (Penggalan QS. al-Baqarah: 256). Dan juga bertentangan dengan ayat; "Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku" (QS. al-Kaafirun: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga beberapa organisasi masyarakat yang merusak beberapa night club (klub malam), dan kios-kios yang dianggap menjual minuman keras. Mereka melakukan aksi perusakan dengan kayu, pentung, besi, dan tak jarang sambil menenteng pedang. Kelompok ini mendasarkan pada firman Tuhan; “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). Memang Islam memerintahkan kepada para pemeluknya untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104). Tidak hanya perintah, namun Islam juga memberikan metode atau jalan yang harus ditempuh untuk sampai pada tujuan tersebut. Sebagaimana firman Tuhan; "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (Penggalan QS. an-Nahl: 125). Firman-firman Tuhan tersebut sudah sangat jelas bahwa Islam adalah agama kasih sayang, lebih mengedepankan perdamaian bukan kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan adalah kelanjutan dari perundingan yang gagal. Adapun hadist di atas harus dipahami secara mendalam. Mengubah dengan tangan bukan berarti menghalalkan kekerasan, mengubah dengan lisan bukan berarti menghalalkan cara dengan mencaci-maki dan menghina, dan mengubah dengan hati bukan berarti diam tak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sedikit jelas bahwa, untuk melaksanakan Islam secara kaffah tidak harus dengan satu cara tertentu, termasuk mendirikan negara atau imperium Islam. Bukan juga hanya dengan masuk partai Islam. Tetapi dengan banyak cara yang telah disediakan oleh Islam yang luas. Dan tentunya tulisan ini bukan jawaban yang final. Seyogyanyalah penulis untuk terus belajar. Dan belajar bisa dari siapa dan kapan saja. Termasuk belajar yang baik adalah belajar kepada orang yang berbeda pendapat dengan penulis. Wallahu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-109190262700941044?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/109190262700941044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=109190262700941044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/109190262700941044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/109190262700941044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/ftyftyfgh-fthgfghgvh_20.html' title='Re-interpretasi Islam Kaffah'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8178816488093919801.post-8811934905331135773</id><published>2009-03-20T03:45:00.008+02:00</published><updated>2009-03-21T17:27:42.996+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran'/><title type='text'>Menimbang Islam Pergerakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia adalah satu dari penggambaran ayat: “Sesungguhnya telah Ku-ciptakan kalian sebagai laki-laki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar kalian saling mengenal (QS al-Hujarat: 13)”, di sini menunjukkan bahwa perbedaan adalah murni kehendak Tuhan. Dengan demikian Islam mengakui perbedaan, dan yang tidak diperbolehkan adalah perpecahan, seperti dalam ayat: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai (QS Ali Imran: 103)”.Dalam salah satu teori hukum Islam: “Sesuatu yang membuat sebuah kewajiban agama tidak terwujud tanpa kehadirannya, akan menjadi wajib pula (Ma la yatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun), itulah salah satu dasar fikih yang disepakati oleh kebanyakan para tokoh muslim atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberadaan negara dirasakan sangat penting demi melindungi segala aktifitas masyarakat dari serangan penjajah atau pihak asing. Dan dengan adanya negara tersebut, masyarakat akan mendapat kenyamanan dalam melaksanakan perintah agama. Mungkin inilah maksud al-Ghazali dalam buku al-Iqtisod fi al-I’tiqod bahwa: “pandangan mengenai imamah bukanlah hal yang sangat urgen dan mewajibkan, bukan juga permasalahan rasionalisme, akan tetapi permasalahan fikih”. Maka dari itu masih relevan sekali salah satu kaidah fikih yang berbunyi: “kebutuhan bisa saja dianggap sebagai keadaan darurat (al-hajatu tanzilu manzilata al-dharurah)”, Itulah prinsip yang memperkenankan perubahan rumusan hukum agama jika memang ada kebutuhan nyata, tentunya asal tidak bertentangan dengan hukum lain yang lebih besar. Dan akhirnya dengan keluwesan hukum Islam tersebut, maka lahirlah sebuah negara yang bersumberkan nilai-nilai Islam. Dengan lahirnya sebuah negara, akhirnya tumbuhlah sebuah faham pemersatu kebangsaan bernama nasionalisme.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun permasalahan tidak selesai di situ, kehidupan mempunyai bermacam dimensi. Tokoh pergerakan Islam seperti al-Maududi tentu berpandangan lain. Baginya, Islam tidak mengakui nasionalisme karena Islam bersifat universal. Mengenai alasan tersebut, penulis sangat setuju. Setuju bahwa Islam adalah agama universal, seperti firman Tuhan atas kedudukan Muhammad SAW: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. al-Anbiya': 107)”, akan tetapi penulis kurang sependapat atas pernyataan bahwa Islam tidak mengakui nasionalisme. Maka dari itu izinkanlah penulis bertanya dengan logika, apakah sesuatu yang universal tidak mengandung sesuatu yang parsial? Apakah sesuatu yang kulli meninggalkan yang juz’i? Bagi penulis, alam pada ayat tersebut berarti sesuatu yang selain Tuhan, dan selain Tuhan berarti makhluk. Makhluk berarti semua ciptaan Tuhan, termasuk di dalamnya adalah segala sistem ruang dan waktu. Universalisme Islam tersebut dengan demikian membuktikan kebesaran agama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi al-Maududi dan Sayyed Qutub, Pergerakan adalah metode untuk dapat merebut kejayaan Islam. Pergerakan menjadi jalan keselamatan sekaligus jalan penyelesaian berbagai masalah muslim kontemporer. Semasa hidupnya, kedua tokoh pergerakan tersebut menggambarkan bahwa, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim sedang mengalami masa jahiliyyah baru. Jahiliyyah abad ke-20 yang tidak berbeda sama sekali dari jahiliyyah Arab dan dunia pada masa sebelum diangkatnya nabi Muhammad SAW sebagai manusia pilihan. “Kita pada hari ini berada pada masa jahiliyyah seperti masa jahiliyyahnya awal Islam, dan malah lebih parah lagi. Sekarang semuanya dikelilingi kejahiliyyahan. Pandangan manusianya, akidahnya, adatnya, ketaklidannya, perkembangan budayanya, keseniannya, sastranya, hukum dan perundang-undangannya. Hingga banyak sekali jumlah yang akan kita jumpai mengenai kebudayaan Islam, sumber-sumber rujukan Islam, filsafat Islam, pemikiran Islam, yang semuanya telah dihasilkan oleh zaman jahiliyyah sekarang ini,” (Sayyed Qutub dalam bukunya Ma’alim fi al-Toriq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diyakini kedua tokoh pergerakan tersebut pasti melewati pembacaan yang matang. Pembacaan Islam dari zaman Nabi, sahabat, tabi’in, tabi’ittabi’in, hingga Islam pada zamannya. Tentu perbandingan antara satu masa dengan masa yang lainnya akan menyajikan hasil yang sangat beragam. Pada akhirnya setelah melalui perenungan dan pembelajaran yang mendalam, Sayyed Qutub dan al-Maududi menghasilkan sebuah pemikiran. Pemikiran tersebut cukup banyak mendapat perhatian oleh kaum muslimin, dan tidak sedikit yang akhirnya bersatu dengan barisan kedua tokoh tersebut. Pemikiran yang dianggapnya sebagai solusi itu bernama Pergerakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyed Qutub dalam bukunya Fi Zilali al-Qur’an dan al-Maududi dalam Nazariyatu al-Islam wa Hadiyuhu mengisyaratkan beberapa hal tentang kewajiban muslim kontemporer. Pertama, kewajiban mendirikan pergerakan Islam. Kedua, sabar dari fitnah dan ujian dalam mendirikan dan memperjuangkan pergerakan. Ketiga, keharusan terus-menerus bergerak untuk berjuang dan berjihad lebih keras lagi. Keempat, memberikan tempat tersendiri dan pelayanan istimewa kepada para pengikut baru. Sayyed Qutub juga merumuskan peta pergerakannya. Pertama, gerilya dengan cara menjauhi tempat-tempat keramaian. Kedua, Mengikat fikih dengan pergerakan. Ketiga, Tidak adanya perjumpaan dalam dasar-dasar akidah, sistem politik, ekonomi, dengan pihak non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Farouk Abdul Salam dalam bukunya al-Fiqh al-Harakat fi al-Mizan menanggapi bahwa, berjuang di jalan Allah adalah kewajiban bagi setiap muslim kapan pun dan di mana pun. Sedang pergerakan Islam hukumnya adalah fardu kifayah. Hal itu diantaranya berfungsi sebagai pengingat bagi kaum muslimin yang lalai dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan umat Islam, serta merupakan salah satu dari berbagai macam metode dakwah kaum muslim. Dasar yang menjadi pandangannya adalah: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang yang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS. At-Taubah: 122). Firman Tuhan di atas setidaknya membuat sesama muslim untuk tidak saling terpecah belah walau berbeda dalam pemikiran. Perbedaan adalah indah, dan hanya hati kemanusiaan yang bisa mempersatukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam pergerakan, Islam pemikiran dan atau pun Islam-Islam yang lainnya, semuanya adalah bagian dari usaha untuk menjadi muslim yang baik dan benar, sebagaimana firman Tuhan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104). Akan tetapi Tuhan juga tidak hanya sekedar memerintah, Ia juga memberikan caranya, sebagaimana ayat: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (Penggalan QS. an-Nahl: 125). Oleh karenanya, Tuhan tidak pernah membenarkan dakwah dengan cara-cara kekerasan yang sebagian besar berpijak pada dalil: “Barang siapa di antara kalian yang melihat sebuah kemungkaran hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ingkari dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim), untuk menghasilkan pemaknaan yang luas, seyogyanya kita tidak menafikan ayat-ayat Tuhan yang lainnya. Hadist tersebut harus dipahami secara mendalam. Mengubah dengan tangan bukan berarti menghalalkan kekerasan, mengubah dengan lisan bukan berarti menghalalkan cara dengan mencaci-maki dan menghina, dan mengubah dengan hati bukan berarti diam tak melakukan apa-apa. Kelihatannya mudah, namun sulit sekali melakukannya bukan?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8178816488093919801-8811934905331135773?l=tabranibasya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tabranibasya.blogspot.com/feeds/8811934905331135773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8178816488093919801&amp;postID=8811934905331135773' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/8811934905331135773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8178816488093919801/posts/default/8811934905331135773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tabranibasya.blogspot.com/2009/03/sdfsdfs.html' title='Menimbang Islam Pergerakan'/><author><name>Situs resmi Muhammad Tabrani Basya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08117757755568980422</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='28' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu1c_7jjAt0/SbpNCfesDRI/AAAAAAAAAAM/UFQPSXZ78K8/S220/tom.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
